Kalau Anda
mencermati bagaimana para pakar metodologi penelitian dalam berbagai disiplin
ilmu – bahkan sesama rumpun ilmu sosial sekalipun – mengupas jenis-jenis metode
penelitian, maka besar kemungkinan Anda akan menemukan sudut pandang yang
berbeda-beda. Kumar (1999) misalnya, mengelompokkan berdasarkan tiga
perspektif, yaitu aplikasi dari studi penelitian, tujuan yang ingin dicapai,
serta tipe informasi yang diperoleh penelitian tersebut. Sementara menurut Sugiyono
(2007) jenis-jenis metode penelitian dapat
diklasifikasikan berdasarkan “tujuan” dan “tingkat kealamiahan (natural setting)” dari objek yang diteliti.
Pemilah-milahan tersebut sebagaimana diuraikan berikut ini.
1. Berdasarkan tujuan, metode penelitian dapat
diklasifikasikan antara lain:
a. Penelitian dasar (basic
research)
b. Penelitian terapan (applied
research)
c. Penelitian pengembangan (research
and development)
2. Berdasarkan tingkat kealamiahan tempat
penelitian, metode penelitian dapat diklasifikasikan antara lain:
a. Penelitian eksperimen
b. Penelitian survey
c. Penelitian naturalistic
Gay (1997, dalam Sugiyono, 2007) menyatakan bahwa sebenarnya sulit untuk
membedakan antara penelitian murni (dasar) dan
terapan secara terpisah, karena keduanya terletak pada satu garis
kontinum. Penelitian dasar bertujuan untuk mengembangkan teori dan tidak
memperhatikan kegunaan yang langsung bersifat praktis. Sementara itu, salah
seorang pakar filsafat, Suriasumantri (1985, dalam Sugiyono, 2007) menyatakan
bahwa penelitian dasar atau murni (basic
research) adalah penelitian yang bertujuan menemukan pengetahuan baru yang
sebelumnya belum pernah diketahui, sedangkan penelitian terapan (applied research) adalah bertujuan
untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis. Borg dan Gall (1988, dalam
Sugiyono, 2007) menyatakan bahwa, penelitian dan pengembangan (research and development/R&D),
merupakan metode penelitian yang
digunakan untuk mengembangkan atau memvalidasi produk-produk yang digunakan
dalam pendidikan dan pembelajaran. Penelitian dan perkembangan bertujuan untuk
menemukan, mengembangkan dan memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam
pendidikan dan pembelajaran. Dalam pandangan keduanya, jenis penelitian ini
adalah “jembatan” antara basic research
dan applied research. Lebih jauh Borg
dan Gall (1989, dalam Sugiyono, 2005) menegaskan, “One way to bridge the gap between research and practice in education is
to research and development.
Pada umumnya, research and development/R&D
bersifat longitudinal, dilakukan dalam beberapa tahap. Untuk penelitian
analisis kebutuhan (need assessment) sehingga
mampu dihasilkan produk yang bersifat hipotetik sering digunakan metode
penelitian dasar (basic research).
Selanjutnya untuk menguji produk yang masih bersifat hipotetik tersebut,
digunakan penelitian eksperimen. Setelah produk teruji, maka dapat
diaplikasikan. Proses pengujian produk dengan eksperimen tersebut, dinamakan
penelitian terapan (applied research).
Metode penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang di gunakan untuk
mencari pengaruh treatment (perlakuan)
tertentu. Misalnya pengaruh ruang kelas yang ber AC terhadap produktivitas
kerja. Metode survey digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang
alamiah (bukan buatan) tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan
data, misalnya dengan mengedarkan kuesioner, wawancara terstruktur, dan
sebagainnya.
Mengacu pada uraian tentang jenis-jenis penelitian di atas dapat disimpulkan
bahwa metode kuantitatif mencakup metode penelitian eksperimen dan survey,
sedangkan yang termasuk metode kualitatif adalah metode naturalistic. Penelitian untuk basic
research pada umumnya menggunakan metode eksperimen dan kualitatif, applied research menggunakan eksperimen
dan survey, dan R & D dapat menggunakan survey, kualitatif dan eksperimen.
Sumber:
Kumar,
R. (1999). Research Methodology: A Step
by Step Guide for Beginners. London: Sage Publication.
Sugiyono (2007). Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.