Istilah “ilmu”
atau “science” merupakan suatu
perkataan yang cukup bermakna ganda, lebih dari satu arti. Ditinjau dari cakupannya,
ilmu merupakan istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang
dipandang sebagai satu kebulatan (science-in-general).
Dalam arti yang lain, ilmu juga menunjuk pada msing-masing bidang pengetahuan
ilmiah yang mempelajari suatu pokok persoalan tertentu. Misalnya, ada
psikologi, sosiologi, geografi, dan sebagainya. Pada sisi lain, ilmu (science) juga seringkali dipakai untuk
menunjuk gugusan ilmu-ilmu kealaman atau natural
sciences. Science dalam pengertian inilah yang biasanya dimaksud dalam
ungkapan “science and technology”.
Oleh sebab itu, melalui artikel ini, makna dari istilah ilmu dipaparkan secara
sekilas, setidaknya sebagai upaya menjernihkan dan mengawali ulasan-ulasan
selanjutnya dalam menu “Filsafat Ilmu dan Logika” ini.
Secara singkat,
ilmu dapat dikatakan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui “metode ilmiah”.
Artinya, tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, sebab ilmu merupakan
pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang
sistematis. Berikut ini akan disajikan beberapa definisi tentang apa yang
dimaksud dengan ilmu, antara lain:
a. Menurut Poespoprodjo (1999a), ilmu adalah kumpulan
pengetahuan hasil penyelidikan pandangan yang logis teratur, kritis, dan
sistematis terhadap suatu objek. Setiap
cabang ilmu, menurut Poespoprodjo (1999b) selalu membatasi diri pada salah satu
bidang tertentu, yang selalu diwarnai pertanyaan mengenai “apa yang terjadi,
bagaimana, dan mengapa”. Menjelaskan sesuatu berarti menunjukkan bagaimana hal
yang satu berhubungan dengan hal-hal yang lain.
b. Menurut Kemeny (dalam Gie, 2004), science
is all knowledge
collected by means of the scientific method (ilmu adalah semua pengetahuan yang
dihimpun dengan perantaraan metode ilmiah).
c. Di kalangan ilmuan sendiri
umumnya juga ada kesepakatan bahwa ilmu terdiri atas pengetahuan, sebagaimana dikutip Gie (2004), sebagai berikut:
“science refers primarily to those
systematically organized bodies of accumulated knowledge concerning the
universe which have been derived exclusively through techniques of objective
observation. The content of science, then,
consists of organized bodies of data.” (Ilmu
merujuk pertama-tama pada kumpulan-kumpulan yang disusun secara sistematis dari
pengetahuan yang dihimpun tentang alam semesta yang melulu diperoleh melalui
teknik-teknik pengamatan yang objektif. Dengan demikian, maka isi ilmu terdiri
dari kumpulan-kumpulan teratur dari data).
d. Menurut Gie (2004), pengertian ilmu sebagai
pengetahuan itu sesuai dengan asal usul istilah inggris science yang berasal dari perkataan latin scientia yang diturunkan dari kata scire. Perkataan yang terakhir ini artinya mengetahui (to know). Tetapi pengetahuan
sesungguhnya hanyalah hasil atau produk dari suatu kegiatan yang dilakukan oleh
manusia. Perkataan Latin scire juga berarti belajar (to learn). Dengan demikian dapat
dipahami bilamana ada makna tambahan dari ilmu sebagai aktivitas (atau suatu
proses, yakni serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh manusia).
e. Menurut Singer (dalam Gie, 2004), science is the process which makes knowledge (ilmu adalah proses yang membuat
pengetahuan).
f. Menurut Warfield (dalam Gie, 2004), juga hampir senada dengan
Charles Singer di atas, Warfield menegaskan “but science is also viewed as a process.
The process orientation is most relevant to a concern for inquiry, since
inquiry is a major part of science as a process (Tetapi,
ilmu juga dipandang sebagai suatu proses. Pandangan proses ini paling bertalian
dengan suatu perhatian terhadap penyelidikan, karena penyelidikan adalah suatu
bagian besar dari ilmu sebagai suatu proses).
g. Menurut Titus (dalam Gie, 2004), banyak orang telah
mempergunakan istilah ilmu untuk menyebut “a
method of obtaining knowledge that is objective and veriable” (suatu metode guna memperoleh pengetahuan
yang objektif dan dapat diperiksa kebenarannya).
h. Menurut Ladriere (1975, dalam Gie, 2004), “Science
may be regarded as the sum of our present knowledge, or as a research activity,
or asa a method of acquiring knowledge (ilmu
dapat dipandang sebagai keseluruhan pengetahuan kita dewasa ini, atau sebagai
suatu aktivitas penelitian, atau sebagai suatu metode untuk memperoleh pengetahuan).
i. Menurut Buzzati-Traverso (dalam Gie, 2004), ilmu tidak dapat lagi
dipandang hanya sebagai suatu kumpulan pengetahuan atau suatu metode khusus
untuk memperoleh pengetahuan atau suatu metode khusus untuk memperoleh
pengetahuan; ilmu harus dilihat sebagai suatu aktivitas kemasyarakatan pula.
j. Menurut Campbell (dalam Gie, 2004), ilmu mempunyai dua bentuk atau segi:
a. Pertama ilmu adalah suatu
kumpulan pengetahuan yang berguna dan praktis dan suatu metode untuk memperoleh
pengetahuan. Ilmu dalam bentuk inilah memainkan suatu bagian begitu besar dalam
penghancuran perang dan, sebagaimana dituntut, harus memainkan suatu bagian
sama besarnya dalam pemulihan perdamaian yang baik, ilmu dapat berbut kebaikan
atau kejahatan.
b. Dalam bentuk seginya yang kedua,
ilmu tidak bersangkutan dengan kehidupan praktis dan tidak dapat
mempengaruhinya, kecuali dalam cara yang paling tidak langsung, baik untuk
kebaikan atau untuk keburukan. Ilmu dalam bentuk ini adalah suatu penelaahan
intelektual yang murni.
k. Menurut Marx dan Hillix (dalam Gie, 2004), keduanya menyebut tentang tiga ciri dari ilmu, yaitu sebagai sikap
ilmiah, metode ilmiah, dan kumpulan pengetahuan. Keduanya menulis
definisi ilmu selengkapnya sebagai berikut:
“Ilmu adalah suatu usaha
kemasyarakatan berisi banyak yang telah didefinisikan dalam beberapa cara.
Beberapa lebih menyukai menekankan suatu cara pemikiran – sikap ilmiah - sebagai cirri yang utama. Untuk orang lain,
ilmu adalah pertama-tama suatu cara berbuat; metode ilmiah dipandang sebagai
cirri terpenting. Masih lainnya lagi lebih menyukai menekankan hasil dari
metode itu – kumpulan pengetahuan teratur secara sistematis yang para ilmuwan
hasilkan. Tiada satu dari penekanan-penekanan itu dapat diterima dengan
menyingkirkan yang lain-lainnya. Prosedur yang teraman ialah menerima
kesemuanya dan menganggap ilmu sebagai usaha keseluruhan yang bulat:
orang-orang berfikir dengan suatu sikap tertentu memakai metode-metode ilmiah
untuk menghasilkan fakta-fakta dan teori-teori yang merupakan penerimaan yang
teratur dan penjelasan tentang dunia ini.”
Apabila ditelaah lebih dalam, maka dari beberapa pengertian tentang apa
yang dimaksud dengan ilmu yang telah disajikan di atas, dapat kiranya disimpulkan
bahwa terdapat kesepatakan di antara para filsuf bahwa ilmu adalah kumpulan pengetahuan
yang disusun secara sistematis (any systematic
body of knowledge).
Demikianlah ulasan tentang apa yang dimaksud dengan ilmu (science), semoga bermanfaat bagi Anda
yang membutuhkannya.
Sumber:
Poespoprojo, W. (1999a).
Logika Scientifika, Pengantar Dialektika
dan Ilmu. Bandung: Pustaka Grafika.
Poespoprojo, W. (1999b).
Logika Ilmu Menalar: Dasar-dasar Berpikir Tertib, Logis,
Kritis, Analitis, Dialektif. Bandung: Pustaka Grafika.
The Liang Gie (2004). Pengantar
Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.
Suriasumantri, J.S. (2007). Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.