Pada hakekatnya sukar untuk memberikan definisi tentang apa itu filsafat, karena tidak ada satu pun definisi yang definitif. Menurut Gie (2004) kata filsafat
berasal dari bahasa Yunani “philosophia”.
Philos atau philia yang berarti cinta, dan sophia
yang berarti kearifan. Menurut Sunoto (1994) cinta mengandung makna hasrat yang
besar atau yang berkobar-kobar atau bersungguh-sungguh, sedangkan kearifan (kebijaksanaan)
mengandung arti kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Dengan
demikian, filsafat menyajikan banyak sekali pengertian terutama dipengaruhi
oleh berbagai aliran yang ada di dalamnya.
Mengawali ulasan Filsafat Ilmu pada kesempatan ini
disajikan beberapa pengertian tentang filsafat, antara lain
:
a. Menurut
Socrates (469 – 399 s.M., dalam Gie, 2004), filsafat adalah suatu
peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari
kehidupan yang adil dan bahagia (principles
of the just and happy life).
b. Menurut
Plato (427 – 347 s.M.,
dalam Gie, 2004), filsafat merupakan pencarian yang bersifat
spekulatif atau perekaan terhadap pandangan tentang seluruh kebenaran.
c. Menurut
Marcus Tullius Cicero (106 – 43 s.M, dalam Gie, 2004) yang beraliran Stoicisme, bahwa yang
dimaksud filsafat adalah ars vitae (the
art of life) yang dapat diartikan sebagai pengetahuan kehidupan.
d. Menurut
Christian von Wolff (1679 – 1754,
dalam Gie, 2004), filsafat sebagai ilmu tentang hal yang
mungkin sejauh dapat ada (the science of
the possible insofar as they can be).
e. Menurut
George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831, dalam Gie, 2004), filsafat sebagai ‘die
denkende Bewtrachtung der Gegenstände’
atau ‘the investigation of things
by thought and contemplation’ atau dimaknai sebagai “penyelidikan sesuatu dengan pemikiran dan
perenungan.”
f. Menurut
Sunoto (1994), filsafat adalah hasil pikiran manusia yang kritik dan dinyatakan
dalam bentuk yang sistematik.
Menurut Suriasumantri (2007) seseorang yang
berfilsafat dapat diibaratkan seperti seorang yang berdiri di puncak gunung,
lalu memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya. Dia menyimak kehadirannya
dengan kesemestaan yang ditatapnya. Jadi, karakteristik berpikir filsafat yang
pertama adalah sifat “menyeluruh”.
Seorang filsuf tidak lagi puas mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu
sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang
lainnya. Suriasumantri menambahkan, selain menengadah ke bintang, seorang yang
berpikir filsafati juga membongkar tempat berpijak secara fundamental. Inilah karakteristik
berpikir filsafati yang kedua yaitu sifat “mendasar”.
Dia tidak lagi percaya bahwa ilmu itu benar. Seperti sebuah lingkaran maka
pertanyaan itu melingkar – mengapa ilmu itu dapat disebut benar, bagaimana
proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan, apakah kriteria itu
sendiri benar, lalu benar itu sendiri apa? Suriasumantri menjelaskan bahwa pada
kenyataannya memang tidak mungkin juga kita menangguk pengetahuan secara
keseluruhan, kita hanya dapat berspekulasi, dan inilah yang merupakan ciri
filsafat berikutnya, yaitu sifat “spekulatif”.
Sifat spekulatif ini tidak dapat dihindarkan. Dalam hal ini, menurut
Suriasumantri, yang penting adalah bahwa dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun
pembuktiannya, kita bisa memisahkan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan
mana yang tidak. Tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat
diandalkan.
Berpijak pada uraian Suriasumantri di atas, penulis
menyimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menelaah segala
sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia, dengan cara melalukan penyelidikan
tentang hakikat segala sesuatu secara menyeluruh, mendasar, dan spekulatif untuk
memperoleh kebenaran.
Demikianlah ulasan singkat tentang “apa itu filsafat”,
semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.
Sumber:
The Liang Gie (2004). Pengantar
Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.
Suriasumantri, J.S. (2007). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Sunoto (1994).
Mengenal Filsafat Pancasila, Pendekatan melalui Metafisika, Logika dan Etika. Yogyakarta:
Hanindita.