Meskipun media
elektronik sudah demikian maju, namun keberadaan media cetak yang mengharuskan
seseorang bisa membaca tetap memegang peranan penting dalam kehidupan manusia
modern. Kemampuan membaca dapat dikatakan sebagai “pintu masuk” utama bagi
berbagai pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan seseorang.
Apa yang dimaksud dengan membaca?
Menurut Broto
(1975, dalam Abdurrahman, 2003), membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulisan
atau lambang bunyi bahasa, melainkan juga menanggapi dan memahami isi bahasa tulisan.
Selanjutnya Bond (1975, dalam Abdurrahman, 2003) mengemukakan bahwa membaca
merupakan pengenalan simbol-simbol bahasa tulis yang merupakan stimulus yang
membantu proses mengingat tentang apa yang dibaca, untuk membangun suatu
pengertian melalui pengalaman yang telah dimiliki.
Mengacu pada
pengertian “membaca” di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan
aktivitas yang kompleks, terutama terkait dengan aktivitas mental, yaitu
mengenali simbol bahasa tulis, mengingat, dan kemudian memahami dari apa yang
dibaca.
Oleh sebab itu,
tidak semua orang dapat dengan mudah melakukan kegiatan ini, terlebih pada
anak-anak. Menurut Kirk et al, sebagaimana dikutip Mercer (1979, dalam
Abdurrahman, 2003) ada delapan faktor yang
menentukan keberhasilan belajar membaca, antara lain:
a. Kematangan mental
b. Kemampuan visual
c. Kemampuan mendengarkan
d. Perkembangan wicara dan
bahasa
e. Keterampilan berpikir dan
memperhatikan
f. Perkembangan motorik
g. Kematangan sosial dan emosional
h. Motivasi dan minat
Individu yang kesulitan
dalam belajar membaca disebut mengalami dyslexia.
Ada pula yang menyebut dengan istilah corrective
readers dan remedial readers
(Hallahan et al., 1985; dalam
Abdurrahman, 2003). Istilah “dyslexia” ditemukan pada tahun 1887 oleh seorang dokter mata (ophthalmologist) berkebangsaan
Jerman, bernama Rudolf Berlin
(1833-1897). Istilah dyslexia berakar
dari Bahasa Yunani, dys
yang berarti “sulit, abnormal, atau
adanya gangguan”, dan lexia yang berarti “bahasa, kata-kata, atau membaca”. Jadi,
dapat disimpulkan, dyslexia adalah istilah
yang bermakna “kesulitan dalam membaca”.
Sering pula ditemukan
istilah, dyslexia dan alexia, apa bedanya? Jika dyslexia merujuk pada gangguan dalam membaca,
atau proses membaca seseorang yang mengalaminya “terganggu” (orang tersebut masih
bisa membaca), maka alexia merujuk
pada kemampuan seseorang dalam membaca sudah tidak ada, atau gangguan tersebut
bersifat permanen. Jadi, alexia merupakan
istilah yang merujuk pada kesulitan belajar membaca (dyslexia) pada kategori yang
berat.
Bryan and Bryan dikutip Mercer (dalam
Abdurarrahman 2003) mendefinisikan dyslexia sebagai suatu sindroma
kesulitan mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan
komponen-komponen kata dan kalimat, dan dalam belajar segala sesuatu yang
berkenaan dengan waktu, arah, dan masa. Menurut Lerner, sebagaimana dikutip Mercer (1979;
dalam Abdurrahman, 2003) bahwa definisi dyslexia
bermacam-macam, namun semuanya menunjuk pada adanya gangguan fungsi otak.
Apabila mengacu pada klasifikasi atau penggolongan Learning Disability, maka dyslexia - seperti halnya dysgraphia dan dyscalculia - adalah termasuk bagian dari Learning Disability yang berhubungan dengan akademik (academic learning disabilities), menunjukkan kesulitan dalam pencapaian prestasi akademik.
Menurut Mercer
(1983; dalam Abdurrahman, 2003), apabila dikelompok-kelompokkan, maka ada empat kelompok karakteristik dyslexia, yakni:
a. Kebiasaan
membaca.
b. Kekeliruan
mengenal kata.
c. Kekeliruan
pemahaman.
d. Gejala-gejala
serbaneka.
Pada anak-anak berkesulitan belajar membaca seringkali memperlihatkan kebiasaan
membaca yang tidak wajar, misalnya memperlihatkan gerakan-gerakan penuh
ketegangan, seperti mengernyitkan kening, tampak gelisah, irama suara meninggi,
atau menggigit bibir. Seringkali pula mengalami kekeliruan dalam mengenal kata,
misalnya penghilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap,
pengubahan tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak. Selain itu,
anak-anak berkesulitan belajar membaca juga seringkali keliru dalam memahami
apa yang dibacanya, terbukti dari banyaknya kesalahan dalam menjawab pertanyaan,
tidak dapat mengurutkan cerita dari teks yang dibaca, atau tidak dapat memahami
tema utama dari suatu cerita. Gejala serbaneka tampak seperti membaca kata demi
kata, penuh ketegangan, nada tinggi, dan membaca dengan penekanan yang tidak
tepat.
Vernon sebagaimana dikutip oleh Hargrove dan Poteet (1984; dalam
Abdurrahman, 2003) mengemukakan beberapa ciri khas perilaku anak dyslexia,
sebagai berikut:
a. Memiliki kekurangan dalam
diskriminasi penglihatan
b. Tidak mampu menganalisis
kata menjadi huruf-huruf
c. Memiliki kekurangan dalam
memory visual
d. Memiliki kekurangan dalam
melakukan diskriminasi auditoris
e. Tidak mampu memahami symbol bunyi
f. Kurang mampu mengintegrasikan
penglihatan dengan pendengaran
g. Kesulitan dalam mempelajari asosiasi simbol-simbol
ireguler (khususnya dalam Bahasa Inggris.
h. Kesulitan dalam mengurutkan kata-kata dan
huruf-huruf
i. Membaca kata demi kata
j. Kurang memiliki kemampuan dalam berpikir
konseptual.
Berbagai bentuk kesalahan-kesalahan
dalam belajar membaca, menurut Hargrove (1984; dalam Abdurrahman,
2003) antara lain:
a. Penghilangan kata atau huruf
b. Penyelipan kata
c. Penggantian kata
d. Pengucapan kata salah dan
makna berbeda
e. Pengucapan kata salah tetapi
makna sama
f. Pengucapan kata salah dan
tidak bermakna
g. Pengucapan kata dengan
bantuan guru
h. Pengulangan
i. Pembalikan huruf
j. Kurang memperhatikan tanda
baca
k. Pembetulan sendiri
l. Ragu-ragu
m. Tersendat-sendat
Demikianlah ulasan tentang dyslexia
(kesulitan membaca), semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.