Posted by Laulaka on Minggu, 28 Agustus 2016
Mukidi
lagi melancong ke Arab, seperti orang Indonesia yang lainnya, Mukidi juga ikut tour naik unta. Tetapi unta di Arab tidak seperti unta di
Indonesia. Unta di Indonesia,
ketika Mukidi bilang, “duduk” maka
unta langsung duduk. Kalau di Arab,
memiliki “kata kunci” yang sangat berbeda. Perbedaannya, unta di Arab, walaupun Mukidi
sudah bilang: “Duduk, sit..
sit, jongkok, diuk” sang
unta tetap saja berdiri,
dan akibatnya Mukidi tidak bisa naik.
Untung saja, di Arab disediakan banyak pawang unta,
yang siap membantu para pelancong menikmati pemandangan di Arab. Bersama pawang
unta, “bahasa hati unta” dapat dengan mudah diselami.
Ketika pawang unta bilang: Assalamualaikum… dengan
perlahan-lahan si unta pun duduk, siap dinaiki.”
Kini tiba
gilirannya si Mukidi menerapkan pelajaran sang pawang.
Mukidi: “Asalamualaikum” unta langsung
duduk…
Mukidi naik, dan setelah itu
unta langsung berdiri lagi.
Mukidi: “Jalan.. jalan..” unta
tetap diam… Mukidi memukul-mukul
punggungnya,
tapi unta
tetap diam saja…. Unta tidak
mau jalan.
Pawang naik unta yang lain, berada dekat Mukidi. Lalu
sang pawang bilang: “Bismillah… “ Tiba-tiba unta yang dinaiki
Mukidi jalan lagi… Wahhh.. Mukidi senang bangetttt… senangnnn bangettttt….. sang pawang pun ikut
tersenyum.
Tak
lama kemudian Mukidi bertanya,
“Pawang….
bagaimana
cara nyuruh unta ini
berlari?”
Pawang mengatakan: “Bilang aja… alhamdulilah… pasti unta berlari..”
Mukidi mengangguk dan mengucapkan:
“Alhamdulilahhhh.”… dan unta pun berlari.
Mukidi senang bangetttttttt….. Saking senangnya… Mukidi bilang lagi “Alhamdulilah…. Alhamdulillahhhh….” dan si unta pun berlari tambah kencang, ternyata…. si Pawang Unta makin
ketinggalan.
Ketika
Mukidi sudah jauh si Pawang Unta baru ingat, belum memberi tahu caranya unta berhenti. Dari jauh si pawang berteriak: Pak
Mukidiiiiiiii….. kalo mau berhenti bilang innalillahi..” Sayangnya… karena
sudah jauh,
Mukidi tidak mendengar
petunjuk sang pawing... Unta
itu terus
berlari… makin kencang.
Sampai
akhirnya… di
kejauhan,
Mukidi melihat di depannya ada
jurang yang sangat dalam. Mukidi sangat
ketakutan,
ia berusaha menghentikan
unta itu: “Stop, stop, stoooop,
stooop, oop, oooooooooppppop…. !!!”
Usaha
Mukidi ternyata sia-sia… unta tetap berlari, dan jurang sudah terpampang di depan mata. “mati aku…. mati aku….” teriak Mukidi… Mukidi semakin menyadari.. dalam hitungan detik.. dia
jatuh ke jurang yang sangat dalam… dan alamatnya sebentar lagi dia akan mati..
.
Dalam
suasana yang panik.. Mukidi berteriak sekencang-kencangnya: “innalillahi…. Innalilahiiii…..!!”
sambil memejamkan mata pasrah…. Eeeee
ternyata unta mendadak berhenti… dan.. ketika Mukidi membuka matanya.. Mukidi melihat posisi kaki unta sudah persis di tepi jurang yang dalam itu... Betapa senangnya hati Mukidi… ternyata Tuhan masih
menyelamatkan nyawanya… Mukidi mengelus-elus dadanya… sambil mengucapkan… alhamdulillahhhh….!!!”….
plunggggg…. Mukidi masuk jurang wakakakakakakakaaa….. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.