Rumusan masalah selalu mengikuti “bentuk-bentuk masalah”.
Lalu dari bentuk-bentuk masalah itu, apakah Anda sebagai peneliti hanya ingin
mendeskripsikan (deskriptif), membandingkan (komparatif), atau mencari hubungan
antarvariabel (asosiatif). Sekilas mengenai hal ini akan dikupas, sekaligus
menjelaskan lebih jauh melalui contoh-contoh, mempertegas artikel terdahulu -
Apa itu Rumusan Masalah - sebagai berikut:
a. Masalah
Deskriptif
Masalah deskriptif yaitu masalah-masalah yang berkenaan dengan keberadaan
variabel penelitian secara mandiri, baik terdiri dari hanya satu variabel
ataupun lebih. Ciri khas penelitian jenis ini hanya memaparkan masalah saja,
tidak membandingkan variabel yang satu dengan varaibel lainnya, juga tidak
dimaksudkan untuk mengetahui hubungan kausalitas antarvariabel. Oleh sebab itu,
penelitian-penelitian semacam ini selanjutnya disebut penelitian deskriptif. Contoh-contoh rumusan masalah
pada penelitian deskriptif, misalnya:
• Bagaimanakah sikap siswa
SMP Arjuna terhadap wacana penerapan program full day school?
• Seberapa tinggi tingkat kepuasan ibu-ibu rumah tangga di Desa
Saniyem berkenaan dengan kebijakan pemerintah melakukan konversi minyak tanah
ke LPG dan program Keluarga Berencana?
• Seberapa tinggi self-efficacy
siswa SMK Yudhistira dalam mengikuti pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris?
• Dan sebagainya.
b. Masalah
Komparatif
Masalah komparatif yaitu masalah-masalah penelitian di mana peneliti ingin mengetahui
perbandingan (mengkomparasikan) melalui satu variabel atau lebih, pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda-beda.
Penelitian-penelitian seperti ini ”lebih sering” diterapkan pada
penelitian-penelitian eksperimen. Misalnya, peneliti ingin mengetahui pengaruh self-esteem terhadap perilaku prososial
pada siswa yang tinggal di kos, di pondok pesantren, asrama yatim-piatu, dan
kampoeng Bahasa Inggris di Kediri. Contoh lain, misalnya, peneliti ingin
mengetahui perbedaan metode pembelajaran cooperative
learning tipe tertentu terhadap prestasi belajar pada siswa di sekolah A
dan B. Dalam hal ini, peneliti mencatat prestasi belajar siswa (sampel yang
sudah dipilih secara random), pada semester lalu, ketika masih menerapkan
metode tradisional. Setelah diperoleh baseline-nya,
selanjutnya untuk sekolah A misalnya diterapkan metode pembelajaran cooperative learning tipe STAD, dan
sekolah B diterapkan tipe jigsaw.
Lalu pada akhir semester prestasi belajar siswa (sampel) diukur berdasarkan
Nilai UAS-nya. Adapun contoh-contoh rumusan
masalah pada masalah komparatif ini,
misalnya:
• Apakah
ada perbedaan motivasi belajar dan prestasi belajar mahasiswa yang berasal dari keluarga pendidik (guru/dosen), TNI/Polri, dan petani, di Kecamatan Maju? (dua variabel, pada tiga sampel,
yaitu keluarga pendidik, TNI/Polri, dan petani)
• Apakah ada perbedaan tingkat kepuasan
terhadap Program BPJS antara masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan di
perkotaan? (satu variabel, pada dua sampel, yaitu masyarakat di desa dan di
kota)
• Dan
sebagainya.
c. Masalah
Asosiatif
Masalah asositif yaitu masalah-masalah penelitian di mana
peneliti ingin mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Hubungan
variabel-variabel tersebut bisa saja bersifat simetris (hubungan variabel
“diduga” muncul secara bersamaan), bisa saja menunjukkan kausalitas (hubungan
variabel “diduga” mengandung unsur sebab-akibat), dan bisa juga menunjukkan
hubungan “saling” mempengaruhi. Masing-masing hubungan antarvariabel terkait
dengan masalah asosiatif ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Hubungan simetris adalah hubungan antara dua variabel atau lebih yang
diduga munculnya secara bersamaan.
Contoh rumusan masalah atau research
question-nya, antara lain:
• Apakah ada hubungan antara banyaknya tugas yang diberikan guru
dengan tingkat prokrastinasi siswa SMA Butir Embun dalam mengerjakan PR?
• Apakah ada hubungan antara kemudahan mencari informasi di internet
dengan ketekunan siswa belajar secara mandiri?
• Dan sebagainya.
2) Hubungan kausalitas adalah hubungan yang menunjukkan sebab-akibat. Penelitian
dengan pola ini paling banyak diminati peneliti. Dalam hal ini, variabel
penyebab, lazim disebut variabel bebas (independent
variable), variabel stimulus, variabel prediktor, variabel antecedent, atau exogenous variable diduga ”mengakibatkan” terjadinya variabel
terikat (dependent variable), lazim
disebut variabel output, variabel
kriteria, variabel konsekuen. Contoh rumusan masalah atau research question-nya, antara lain:
• Apakah ada pengaruh pemberian pujian (reward) terhadap prestasi belajar siswa SMK Budi Wati di Kabupaten
Sintang?
• Apakah ada pengaruh tingkat sosial ekonomi orang tua terhadap
perilaku prososial siswa SMP Karang Gigi di Desa Sepur Mandeg?
• Dan sebagainya.
3) Hubungan yang bersifat saling
mempengaruhi, interaktif, atau timbal-balik (reciprocal).
Hubungan jenis ini biasanya ditopang oleh adanya kontradiksi hasil-hasil
penelitian terdahulu. Dalam hal ini, Anda sebagai peneliti mungkin merasa
penasaran, dan ingin menguak kejelasan seperti apa pola hubungan
variabel-variabel itu sesungguhnya. Contoh rumusan masalah atau research question-nya, antara lain:
• Apakah ada hubungan self-efficacy
dan goal orientation siswa SMA Udara
Panas di Kabupaten Sintang?
• Apakah ada hubungan kreativitas dan ketekunan terhadap kemampuan
mahasiswa menguasai Mata Kuliah Proteksi Aset Informasi di Universitas Kapal
Karam Indonesia?
• Dan sebagainya.
Jadi, rumusan masalah dikemukakan dalam bentuk kalimat tanya, dengan kata-kata bantu seperti: apakah, apakah
ada, bagaimana, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan itu memberikan petunjuk tentang kemungkinan peneliti mengumpulkan data dan
mengukurnya. Dalam hal ini, pertimbangannya tidak hanya memperhatikan feasible-nya ditinjau dari aspek
kepakaran Anda sebagai peneliti, tetapi di atas semua itu data tersebut harus
dapat diukur (measureable). Misalnya masalah yang telah dibatasi adalah tentang self-efficacy serta daya tahan (persistence) belajar statistik pada
siswa SMA Tunas Pisang di Kabupaten Sintang, maka rumusan masalah yang Anda
dikemukakan juga harus “segaris” dengan “identifikasi dan batasan” masalah
tersebut. Barangkali, rumusan masalah Anda akan menjadi: Bagaimana rata-rata
tingkat self-efficacy siswa SMA Tunas
Pisang di Kabupaten Sintang? Bagaimana rata-rata daya tahan (persistence) belajar statistik pada
siswa SMA Tunas Pisang di Kabupaten Sintang?
Bagaimana pengaruh self-efficacy
terhadap daya tahan (persistence) belajar
statistik pada siswa SMA Tunas Pisang di Kabupaten Sintang? Konsep dari self-efficacy sudah demikian jelas,
demikian juga daya tahan (persistence),
semuanya itu dapat dioperasionalkan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dapat
dengan mudah diukur setelah dituangkan ke dalam kuesioner, dan “data mentah”
hasil penyajian kuesioner itu selanjutnya diolah dengan statistik kelompok yang
memunculkan nilai range, mÃnimum,
máximum, variance, mean, dan standard
deviation. Nilai-nilai tendency
central tersebut kemudian dapat dengan mudah diolah lagi untuk menentukan
kategori respon, misalnya jika dibuat lima kategori maka tinggal diolah menjadi
stanfive, sembilan kategori menjadi stanine, dan sebagainya. Jika dibuat stanfive, maka Anda akan memiliki
kategori self-efficacy dalam rentang
“rendah, kurang, cukup, tinggi, dan sangat tinggi). Sementara itu, untuk
mengukur pengaruh self-efficacy
terhadap daya tahan (persistence, Anda dapat mengukurnya dengan uji korelasi.
Demikian penjelasan
singkat tentang “Cara Mengemukakan
Rumusan Masalah”, semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.