Jenis-jenis belajar dikelompokkan berdasarkan “tujuan dan hasil belajar” yang
diperoleh dari kegiatan belajar, cara atau proses yang ditempuh dalam belajar,
teknik atau metode belajar, dan sebagainya, di mana pengelompokan seperti ini
muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang
juga bermacam-macam. Dilihat dari tujuan
dan hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar, para ahli umumnya
mengemukakan delapan jenis belajar
(Saodih & Surya, 1971; Syah, 2003; Effendi & Praja, 1993; dalam Sobur,
2003), sebagai berikut:
1. Belajar
Abstrak (Abstract Learning)
Belajar abstrak adalah
belajar dengan menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya untuk
memperoleh pemahaman serta pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam
mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan perananan akal yang kuat disamping
penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk belajar jenis ini,
misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, dan astronomi.
2. Belajar
Keterampilan (Skill Learning)
Belajar keterampilan
merupakan proses belajar yang bertujuan memperoleh keterampilan tertentu dengan
menggunakan gerakan-gerakan motorik. Tujuannya adalah memperoleh dan menguasai
keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini proses latihan yang
intensif sangat diperlukan. Termasuk
belajar jenis ini misalnya belajar cabang olah raga tertentu, melukis, menari,
memainkan alat musik, memperbaiki alat-alat elektronik.
3. Belajar
Sosial (Social Learning)
Belajar sosial adalah belajar
yang bertujuan memperoleh keterampilan dan pemahaman terhadap masalah-masalah sosial,
penyesuaian terhadap nilai-nilai sosial dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk
menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial,
seperti; masalah keluarga, masalah persahabatan, dan masalah-masalah lain yang
muncul ditengah masyarakat. Bidang studi yang termasuk jenis belajar ini adalah
pelajaran agama dan PPkn.
4. Belajar
Pemecahan Masalah (Problem-Solving Learning)
Belajar pemecahan
masalah pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau
berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan membutuhkan ketelitian.
Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk
memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas. Hampir semua bidang
studi dapat dijadikan sarana belajar memecahkan masalah. Namun yang paling
utama berkaitan dengan ilmu-ilmu eksakta seperti matematika dan IPA.
5. Belajar
Rasional (Rational Learning)
Belajar rasional adalah
belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis sesuai dengan akal
sehat. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan
prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Bidang-bidang studi yang dapat digunakan
sebagai sarana belajar rasional sama dengan bidang-bidang studi untuk belajar
pemecahan masalah. Perbedaannya, belajar rasional tidak memberi tekanan khusus
pada penggunaan bidang studi eksakta. Artinya, bidang studi noneksakta pun
dapat memberi efek yang sama dengan bidang studi eksakta dalam belajar rasional
ini.
6. Belajar
Kebiasaan (Habitual Learning)
Belajar kebiasaan adalah
proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan
yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suri tauladan
dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya, agar
siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih cepat dan
lebih positif, dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu atau
bersifat kontekstual.
7. Belajar
Apresiasi (Appreciation Learning)
Belajar apresiasi adalah
belajar mempertimbangkan (judgment)
arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan
mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective
skill) yang dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan menghargai secara
tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi
musik, apresiasi seni lukis, dan sebagainya, yang terkait dengan nilai keindahan
(aesthetic). Bidang-bidang studi yang
dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan
sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, dan melukis.
8. Belajar
Pengetahuan (Study)
Study adalah belajar dengan
cara melakukan penyelidikan secara mendalam terhadap objek pengetahuan
tertentu. Study juga dapat diartikan
sebagai sebuah program belajar yang terencana untuk menguasai materi pelajaran
dengan melibatkan kegiatan investigasi dan eksperimen. Tujuannya adalah agar
siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahamannya terhadap pengetahuan
tertentu, yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat-kiat khusus dalam mempelajarinya,
misalnya menggunakan alat-alat laboratorium dan penelitian lapangan.
Demikianlah jenis-jenis belajar dilihat dari tujuan dan hasil yang diperoleh dari kegiatan
belajar, silakan membaca artikel berikutnya Jenis-Jenis Belajar (bagian 2). Semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.