Teori Belajar yang dibahas terakhir ini
adalah Teori Konstruktivisme (constructivism).
Menurut Hein (1991) slogan terbaru kalangan pendidikan adalah konstruktivisme
baik itu diterapkan untuk
belajar teori maupun epistemologi (baik untuk bagaimana orang belajar maupun
bersifat pengetahuan). Istilah ini menurut Hein
mengacu pada ide bahwa pembelajar membangun pengetahuannya sendiri. Namun ide
pokok konstruktivistik sebenarnya sudah dimulai oleh seorang epistemolog
berkebangsaan Italia, yakni Giovanni Battista (Giambattista) Vico atau Vigo
(1668-1744), yang pada tahun 1710 melalui bukunya yang berjudul De Antiquissima Italorum Sapientia mengungkapkan bahwa, “Tuhan adalah pencipta alam
semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaanNya.” (dalam Yamin, 2008). Secara
sederhana konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri
(Glasersfeld dalam Bettencourt, 1989; Matthews, 1994; dalam Suparno, 1997).
Pengetahuan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan selalu
merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan
seseorang. Seseorang yang belajar itu membentuk pengertian. Orang yang belajar
tidak hanya meniru atau mencerminkan apa yang diajarkan atau yang ia baca,
melainkan menciptakan pengertian (Bettencourt, 1989, dalam Suparno, 1997).
Dalam proses konstruksi itu, menurut Glasersfeld (dalam Suparno, 1997)
diperlukan beberapa kemampuan sebagai berikut:
a. Kemampuan mengingat dan
mengungkapkan kembali pengalaman.
b. Kemampuan membandingkan, mengambil keputusan
(justifikasi) mengenai persamaan dan perbedaan.
c. Kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman
yang satu daripada yang lain.
Menurut Suparno (1997), kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali
pengalaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk berdasarkan interaksi
dengan pengalaman-pengalaman tersebut. Kemampuan membandingkan sangat penting
untuk dapat menarik sifat yang lebih umum dari pengalaman-pengalaman khusus
serta melihat kesamaan dan perbedaannya untuk dapat membuat klsifikasi dan
membangun suatu pengetahuan. Karena kadang seseorang telah menyukai pengalaman
tertentu daripada orang lain, maka muncullah soal nilai dari pengetahuan yang
dibentuk.
Menurut Nurhadi dkk (2003), dalam proses belajar, siswa tidak hanya
“menerima” pengetahuan tetapi “mengkonstruksinya,” sehingga yang menjadi pusat
kegiatan adalah siswa, bukan guru. Bagi siswa untuk benar-benar mengerti dan
dapat menerapkan ilmu pengetahuan, mereka harus bekerja untuk memecahkan
masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri, dan selalu bergulat dengan
ide-ide. Tugas pendidik tidak hanya menjejalkan sejumlah informasi ke dalam
benak siswa, tetapi mengusahakan bagaimana agar konsep-konsep penting dan sangat
berguna tertanam kuat dalam benak siswa. Dalam pandangan konstruktivis,
“strategi memperoleh” lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa
memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah
memfasilitasi proses tersebut dengan cara, sebagai berikut:
a. Menjadikan pengetahuan bermakna
dan relevan bagi siswa.
b. Memberi kesempatan siswa
menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
c. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi
mereka sendiri dalam belajar.
Bagi kaum constructivist, kebenaran diletakkan
pada viabilitas, yaitu kemampuan suatu konsep atau pengetahuan dalam
beroperasi. Artinya, pengetahuan yang kita konstruksi itu dapat digunakan dalam
menghadapi macam-macam fenomena dan persoalan yang berkaitan dengan pengetahuan
tersebut.
Demikianlah ulasan singkat tentang Teori Konstruktivisme. Semoga bermanfaat bagi Anda yang
membutuhkannya.