Posted by Laulaka on Rabu, 13 Juli 2016
Pada artikel terdahulu - ”Apaitu Motif?” - sudah dipaparkan bahwa motif merupakan potensi kekuatan
yang ada pada diri individu. Apabila motif dianggap sebagai tenaga penggerak (driving force), maka motivasi menurut
Wittaker (1970, dalam Soemanto, 2006) adalah kondisi-kondisi atau keadaan yang
mengaktifkan atau memberi dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku untuk mencapai
tujuan yang ditimbulkan oleh motif tersebut. Hersey dan Blanchard (1977, dalam
Alsa & Santhoso, 1997) menyatakan bahwa motivasi adalah kemauan untuk
berbuat sesuatu. Apabila motif menjadi aktif maka muncul gerakan melakukan
aktivitas untuk mencapai tujuan sesuai dengan motifnya. Gerakan individu dalam
melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan berdasarkan motifnya inilah yang
disebut motivasi.
Senada dengan pandangan Hersey dan Blanchard tersebut di
atas, menurut Sardiman (2008)
motivasi dapat dipandang sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif
menjadi aktif, atau motif berubah menjadi motivasi tidak terjadi setiap saat,
tidak terjadi secara otomatis, tetapi terjadi pada saat-saat tertentu, terutama
ketika kebutuhan (needs) untuk
mencapai tujuan dirasakan oleh organisme sangat mendesak. Artinya, motif akan
berubah menjadi motivasi apabila ada stimulasi. Sebagai contoh, si A adalah
seorang mahasiswa strata-1. Si A menyadari bahwa kemampuan berbahasa Inggris
menjadi ciri khas seseorang dengan jenjang pendidikan tertentu. Semakin tinggi jenjang
pendidikan seseorang ”dianggap” semakin baik pula kemampuan Bahasa Inggris-nya.
Sayangnya, selama ini si A merasa Bahasa Inggris termasuk salah satu dari
sekian banyak mata pelajaran yang sulit dan Bahasa Inggris merupakan mata
pelajaran yang paling tidak disukainya. Menjelang akhir studinya nanti, si A pun
tahu bahwa skor TOEFL akan diminta sebagai salah satu syarat kelulusan bagi seluruh
mahasiswa. Dalam hal ini, tuntutan kepada si A untuk memperoleh skor TOEFL
sebagaimana dipersyaratkan merupakan stimulasi yang datangnya dari luar, yang akan
memaksa si A untuk belajar Bahasa Inggris secara serius. Dalam kondisi seperti
ini, meskipun si A menyadari Bahasa Inggris itu penting sebagai kemampuan yang
seharusnya dia miliki, sulit sehingga tidak disukai, tetapi karena didorong
oleh kebutuhan (syarat lulus) maka keinginan untuk menguasai Bahasa Inggris menjadi
penggerak yang mengaktifkan si A untuk belajar secara serius, karena si A ingin
lulus.
Sebagaimana sudah disinggung di atas, apabila ”sumber
stimulasinya berasal dari dalam diri individu” maka motivasinya disebut sebagai
motivasi intrinsik (intrinsic motivation)
(terjadi apabila individu melakukan aktivitas-aktivitas internal; seperti
kepuasan atau kesenangan dalam beraktivitas, kepuasan dalam melakukan hal-hal
yang baru, rasa ingin tahu atau memiliki minat pada objek). Sebaliknya apabila
”sumber stimulasinya berasal dari luar diri individu” maka motivasinya disebut
sebagai motivasi ekstrinsik (extrinsic
motivation) (terjadi apabila individu melakukan aktivitas-aktivitas karena
alasan-alasan eksternal; misalnya supaya individu mendapat pujian, kenaikan
pangkat, mendapatkan penghasilan tambahan, atau seperti contoh di atas, si A belajar
Bahasa Inggris karena menjadi syarat lulus, dan sebagainya).
Dari uraian di atas, pada akhirnya dapat ditarik
kesimpulan tentang bagaimana hubungan antara motif dan motivasi, bahwa motif
adalah daya atau potensi kekuatannya, motif dianggap sebagai tenaga penggerak (driving force), sedangkan motivasi
adalah konsep yang ”menjelaskan” aktivitas dari daya itu. Motivasi merupakan kondisi
atau keadaan yang ”mengaktifkan” individu bertingkah laku untuk mencapai tujuan
yang ditimbulkan oleh motif.
Demikianlah uraian singkat tentang hubungan antara motif
dan motivasi, semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.