Pada kesempatan ini penulis menyajikan
pengelompokan-pengelompokan motif menurut para teoretisi, antara lain sebagai
berikut:
1. Menurut Chauhan (1978, dalam
Alsa & Santhoso, 1997), motif dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori,
yakni:
a. Physiological motives, yaitu motif-motif
yang esensial bagi kelangsungan hidup organisme.
b. Social motives, yaitu motif yang dasarnya
dari motif fisiologik kemudian muncul dan berkembang secara gradual sejalan
dengan pertambahan usia individu melalui interaksinya dengan lingkungan sosial.
c. Personal motives, yaitu motif khusus
yang bersifat individual sesuai dengan struktur kepribadian masing-masing
individu.
2. Menurut Woodworth dan Marquis (1955, dalam
Suryabrata, 2004), motif dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Kebutuhan-kebutuhan organik, meliputi;
kebutuhan makan, kebutuhan minum, kebutuhan untuk bernafas, kebutuhan seksual,
kebutuhan untuk berbuat, dan kebutuhan istirahat.
b. Motif-motif darurat, meliputi; dorongan untuk
menyelamatkan diri, dorongan membalas, dorongan untuk berusaha, dan dorongan
untuk memburu. Dorongan ini timbul karena adanya perangsang dari luar.
c. Motif-motif objektif, meliputi;
kebutuhan-kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, kebutuhan-kebutuhan untuk
melakukan manipulasi, dan kebutuhan untuk menaruh minat. Motif-motif ini timbul
karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
3. Menurut terbentuknya, motif dapat dibagi
menjadi motif bawaan dan motif yang dipelajari.
a. Motif-motif bawaan (dibawa sejak lahir,
adanya bukan karena dipelajari), meliputi; dorongan untuk makan, dorongan untuk
minum, dorongan untuk bergerak dan beristirahat, dorongan seksual.
b. Motif-motif yang dipelajari, meliputi;
dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk memperoleh
kedudukan dalam masyarakat, dan sebagainya. Motif ini disebut juga sebagai
motif yang diisyaratkan secara sosial.
4. Menurut jalarannya, ada dua macam motif,
yaitu motif ekstrinsik dan motif intrinsik.
a. Motif-motif ekstrinsik, yaitu motif-motif
yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Misalnya, mahasiswa
belajar lebih giat karena diberi tahu bahwa sebentar lagi akan ada ujian.
b. Motif-motif intrinsik, yaitu motif-motif yang
berfungsinya tidak memerlukan adanya rangsangan dari luar. Dalam hal ini, di dalam
diri individu itu sendiri memang sudah ada dorongan. Misalnya mahasiswa yang
rajin belajar, ia tidak memerlukan adanya dorongan (rangsangan dari luar) agar
ia belajar, karena telah dengan sendirinya mempersiapkan diri untuk belajar,
terlepas dari saat itu ia akan menghadapi ujian atau tidak.
Seperti dikemukakan oleh
McCown, dkk (1996, dalam Alsa & Santhoso, 1997) intrinsik atau ekstrinsik
motivasi seseorang akan membawa konsekuensi yang berbeda bagi kesinambungan
motivasi tersebut. Seseorang yang melakukan sesuatu dengan motivasi intrinsik
akan dapat lebih lama bertahan dan terlibat dalam aktivitas tersebut, serta
lebih memiliki komitmen terhadap aktivitas tersebut daripada orang yang
motivasinya ekstrinsik. Orang yang motivasinya ekstrinsik akan segera
menghentikan kegiatannya apabila sumber motivasi yang berasal dari luar dirinya
sudah tidak ada.
Dari beberapa literatur,
tampaknya terdapat perbedaan penekanan di kalangan para ahli berkenaan dengan
macam-macam motif ini, namun secara umum mereka sependapat bahwa terdapat motif
yang berkaitan dengan kelangsungan hidup organisme, yaitu motif biologis atau
fisiologis. Motif ini pada umumnya berakar dari keadaan jasmani, misalnya
dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk menghirup udara
segar, dan dorongan seksual. Dalam Theory of Human Motivation yang dikembangkan oleh Maslow (1954, dalam Sobur, 2003),
motif ini dikelompokkan sebagai hierarki kebutuhan yang paling dasar (basic physiological needs). Dorongan-dorongan tersebut adalah berkaitan dengan
kebutuhan-kebutuhan untuk mempertahankan eksistensi manusia sebagai makhluk
hidup. Oleh karena jenis motif ini berkaitan erat dengan pertahanan eksistensi
kehidupan maka motif ini sering disebut sebagai motif primer (primary
motives). Motif biologis ini timbul
apabila tubuh membutuhkan keseimbangan (homeostasis).
Misalnya, bagi orang yang berada dalam kondisi sangat lapar dan membahayakan,
tentu tak ada minat lain kecuali untuk segera menyantap makanan. Artinya
apabila ada kebutuhan (need), maka
hal itu kemudian memicu individu untuk bertindak demi mencapai keseimbangan
yang diperlukan. Oleh sebab itu secara singkat dapat dikatakan bahwa kebutuhan (need) memicu timbulnya motif.
Demikianlah uraian
tentang macam-macam motif, semoga cukup membantu Anda dalam upaya memahami
bagaimana kaitan antara motif dan motivasi, sebagaimana artikel yang penulis
sajikan berikut ini.