Posted by Laulaka on Sabtu, 16 Juli 2016
Pada kesempatan ini penulis akan mengupas tentang Gaya Belajar. Mengapa hal
ini penting, sebab dengan memahami Gaya Belajar, guru - dan orang tua - dapat
memberikan informasi yang berguna bagi siswa, dan siswa pun dapat menggali
potensi dirinya dengan optimal. Setiap siswa memiliki keunikan tersendiri dalam
belajar. Mereka mempunyai “cara sendiri-sendiri” dalam memperoleh dan mengolah
informasi. Cara sendiri-sendiri ini kemudian disebut sebagai gaya belajar (learning styles). Dengan kata lain, learning styles are various approaches or
ways of learning (gaya belajar adalah berbagai pendekatan atau cara belajar).
Menurut pandangan Bobbi DePotter, penggagas Quantum Learning yang kini sangat terkenal itu, ketika
seluruh pancaindra terlibat, maka otak pun sebagai organ utama untuk belajar secara
otomatis akan menyerap bahan pelajaran dengan lebih baik. Menyerap informasi oleh
“indra yang kita miliki”
selanjutnya disebut modalitas belajar (learning
modalities).
Memahami
Gaya Belajar diri sendiri bagi seorang siswa niscaya akan menguntungkan, sebab
dengan menerapkan gaya belajar khas dirinya, berarti menajamkan potensi atau
talenta yang dimilikinya untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan. Selain
itu, kepekaan siswa menilai kecenderungan menerapkan gaya tertentu,
memungkinkan siswa juga lebih peka terkait dengan kemampuan mengatur dirinya
dalam belajar (self-regulated learning).
Mengenai kontribusi self-regulated
learning terhadap prestasi belajar siswa sudah menjadi perbincangan para
psikolog pendidikan pada era sekitar tahun 1980-an di Amerika Serikat, yang
dikupas dalam menu tersendiri di blog ini. Ada tiga Gaya Belajar yang akan kita
bahas, antara lain yang mengandalkan visual,
auditory, dan kinesthetic,
sebagaimana artikel-artikel berikut ini.