Penggolongan lain dikemukakan oleh Suryabrata (2004),
yang berupaya menempatkan “sifat-sifat umum aktivitas manusia” dalam pengkajian
yang dipandang relevan dengan psikologi pendidikan, seraya mencoba menjelaskan
apa yang dihayati, bagaimana penghayatannya, apa yang dikerjakan, apa yang
mendorong seseorang mengerjakan hal tertentu dan kenapa bukan hal yang lain,
dan sebagainya. Adapun penggolongan menurut
Suryabrata dimaksud, secara ringkas sebagai berikut:
1. Perhatian.
Kata “perhatian” merujuk
pada dua pengertian; (1) perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju
kepada suatu objek, dan (2) perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang
menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan.
a. Macam-macam
perhatian.
Apabila dilihat dari intensitasnya, dapat dibedakan menjadi; (1) perhatian
intensif dan (2) perhatian tidak intensif. Apabila dilihat dari cara timbulnya
perhatian itu, dapat dibedakan menjadi; (1) perhatian yang spontan dan (2) perhatian
yang disengaja. Apabila ditinjau dari luasnya objek, maka dapat dibedakan
menjadi; (1) perhatian yang terpencar dan (2) perhatian yang terpusat.
b. Hal-hal yang
menarik perhatian.
1) Dari segi objek.
Hal-hal
yang menarik perhatian adalah hal yang keluar dari konteksnya. Jadi jangan
heran kalau “ilmu ini” menjadi modal bagi para jurnalis dalam memburu berita.
2) Dari segi
subjek.
Hal-hal
yang menarik perhatian adalah hal-hal yang ada sangkut-pautnya dengan pribadi
si subjek. Hal ini umumnya terkait dengan kebutuhan, kegemaran, pekerjaan, dan
sejarah hidup si subjek sendiri.
2. Pengamatan.
Manusia mengenal dunia
dengan cara mengamati. Caranya dengan melihat, mendengar, meraba, membau atau
mencium, dan mencecap. Penglihatan, pendengaran, rabaan, penciuman, dan
pencecapan selanjutnya disebut sebagai modalitas pengamatan. Dunia pengamatan biasanya dilukiskan menurut aspek pengaturannya, yaitu menurut;
(1) pandangan ruang (atas-bawah, kiri-kanan, jauh-dekat, dan sebagainya), (2)
pandangan waktu (masa lalu, masa kini, masa yang akan datang dalam berbagai
variasinya), (3) pandangan gestalt (sesuatu
dilihat sebagai kebulatan atau unity,
gejala kejiwaan dipelajari sebagai suatu totalitas. Misalnya lagu Bengawan Solo
karya almarhum Gesang, akan tetap terdengar sebagai lagu Bengawan Solo, bukan
lagu yang lain), (4) pandangan arti (indra manusia memaknai stimulus yang
diterima berdasarkan pada arti. Misalnya bunyi lonceng pabrik dan bunyi lonceng
gereja menurut bunyinya memiliki persamaan, namun menurut artinya sangat
berbeda satu sama lain).
a. Penglihatan (visual).
Menurut objeknya, masalah penglihatan dapat dibedakan menjadi tiga golongan,
yakni melihat bentuk, melihat dalam, dan melihat warna.
1) Melihat bentuk, artinya melihat objek
yang berdimensi dua (tidak lepas satu dari yang lain, melainkan dilihat sebagai
objek yang bersangkutan satu sama lain). Umpamanya, objek itu dilihat yang
dekat dan yang jauh, bagian-bagian dan keseluruhan, objek pokok dan latarbelakangnya.
Dalam hal ini dibahas beberapa hal antara lain:
(a) Hubungan objek
pokok dengan latar belakang (objek pokok; lebih berbentuk, di depan, lebih
berkesan, mudah diingat; latar belakang; kurang berbentuk, di belakang, kurang
berkesan).
(b) Hukum-hukum gestalt penglihatan; meliputi hukum
keterdekatan, ketertutupan, dan kesamaan.
(c) Peranan sikap
batin subjek. Hal ini dikaitkan dengan kejelasan struktur medan penglihatan,
artinya makin kurang jelas makin penting sikap batin orang yang mengamati.
2) Melihat dalam, artinya melihat objek
yang berdimensi tiga. Salah satu gejala yang terpenting di sini adalah
konstansi besar. Misalnya seseorang yang datang menghampiri kita tidak kita
lihat semakin besar, melainkan hanya semakin dekat.
3) Melihat warna.
Nilai psikologis warna mengundang minat para ahli untuk mengadakan penelitian,
antara lain; (1) nilai afektif warna; di mana warna dipandang memiliki pengaruh
terhadap perilaku, misalnya dinding rumah sakit dicat putih bukan hitam. (2)
nilai lambang warna; di mana warna
dipandang memiliki sifat-sifat potensial dalam abstracto, misalnya hitam melambangkan kesedihan, putih melambangkan
kesucian, hijau me-lambangkan keseimbangan, merah melambangkan sifat yang
ekspansif, dan sebagainya.
b. Pendengaran (auditory).
Mendengar berarti menangkap bunyi-bunyi (suara) dengan indra pendengar,
yang berfungsi; (1) sebagai tanda (signal),
dan (2) sebagai lambang. Selanjutnya dapat digolongkan menjadi dua, yakni:
1) Berdasarkan atas keteraturan,
dapat dibedakan; gemerisik dan nada.
2) Selanjutnya nada biasanya
dibedakan atas dasar; tinggi rendahnya nada, intensitasnya, dan timbre-nya.
c. Rabaan (tactile).
Istilah raba
mengandung dua arti, yaitu:
1) Meraba sebagai perbuatan aktif,
yang meliputi indra keseimbangan atau kinestesi.
2) Pengalaman raba secara pasif,
yang melingkupi pula beberapa indra atau kemampuan lain, seperti; indra untuk
sentuh dan tekanan, indra untuk mengamati panas atau dingin, indra untuk merasa
sakit, dan indra untuk vibrasi. Ketika orang meraba dengan mata tertutup, maka
terjadi visualisasi, artinya kesan rabaan itu akan digambarkan sebagai kesan
penglihatan. Hal ini membuktikan bahwa betapa penting kedudukan penglihatan itu
di antara modalitas pengamatan yang lain.
d. Penciuman (olfactory).
Arti psikologis bau dan pembauan masih sangat sedikit diteliti oleh para
ahli. Swaatdeaker, seperti dikutip Kohnstamm, dkk (1995, dalam Suryabrata,
2004) mengolongkan bau menjadi sembilan macam, yaitu; bau etheris, bau
aromatis, bau bunga, bau amber, bau bawang, bau sangit, bau kapril, bau tak
sedap, dan bau memuakkan.
e. Pencecapan (gustation).
Variasi rasa cecapan demikian beragam, namun indra pencecap umumnya peka
terhadap empat macam rasa pokok, yaitu; manis, asam, asin, dan pahit.
3. Tanggapan dan
variasinya.
“Menanggap” menurut
Linschoten seperti dikutip oleh Kohnstamm, dkk (1995, dalam Suryabrata, 2004)
adalah melakukan kembali sesuatu perbuatan atau melakukan sebelumnya sesuatu
perbuatan tanpa hadirnya objek fungsi primer yang merupakan dasar dari
modalitas tanggapan itu. Dalam hubungan dengan pengertian tersebut, maka
terkandung tiga macam tanggapan, yakni:
a. Tanggapan masa lalu atau tanggapan ingatan.
b. Tanggapan masa akan datang atau tanggapan
mengantisipasi.
c. Tanggapan masa kini atau tanggapan
representatif.
4. Fantasi.
Fantasi adalah daya
untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan
yang sudah ada. Fantasi dapat diklasifikasikan
menjadi; (1) fantasi yang disadari, dan (2) fantasi yang tidak disadari.
Dengan fantasi
memungkinkan orang berempati, memungkinkan orang dapat menyelami sifat-sifat
kemanusiaan pada umumnya, memungkinkan orang melepaskan diri dari ruang dan
waktu, melepaskan diri dari kesukaran yang dihadapi dengan melupakan masa lalu,
memungkinkan orang menyelesaikan konflik riil secara imajiner, serta
memungkinkan manusia menciptakan sesuatu yang dikejar dan berusaha
merealisasikannya.
5. Ingatan.
Berfungsinya ingatan
dapat dilihat dari tiga aspek, yakni:
a. Mencamkan, yaitu menerima kesan-kesan,
terdiri dari:
1) Mencamkan yang sekehendak (disengaja), dan
2) Mencamkan yang tidak sekehendak.
b. Menyimpan kesan-kesan.
Mengingat dan lupa
biasanya ditunjukkan dalam satu pengertian “retention.”
Retensi berarti mengendapkan informasi yang diterima dalam suatu tempat
tertentu. Sistem penyimpanan ini sangat mempengaruhi jenis memory, apakah masuk dalam sistem ingatan berkapasitas terbatas (short-term memory) ataukah dalam sistem
ingatan yang relatif menetap (long-term
memory).
c. Memproduksi kesan-kesan.
Memproduksi kesan-kesan artinya mengaktifkan kembali hal-hal yang sudah
dicamkan tadi, melalui dua cara yaitu; (1) mengingat kembali (recall) dan (2) mengenal kembali (recognition).
6. Berpikir.
Berpikir adalah aktivitas ideasional. Artinya bahwa
berpikir itu aktivitas, aktivitas itu bersifat ideasional (bukan sensoris dan
bukan motoris) walaupun dapat disertai kedua hal itu.
Ditinjau dari proses atau jalannya berpikir, terdapat
tiga langkah, yaitu:
a. Pembentukan pengertian.
1) Menganalisis
ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis. Misalnya ciri-ciri manusia
Indonesia, manusia Eropa, manusia Negro, dan sebagainya.
2) Membanding-bandingkan
ciri-ciri tersebut, mana ciri yang sama dan yang tidak sama, mana yang selalu
ada dan mana yang tidak selalu ada, mana yang hakiki dan mana yang tidak
hakiki.
3) Mengabstraksi,
yaitu menyisihkan atau membuang ciri-ciri yang tidak hakiki dan menangkap
ciri-ciri yang hakiki.
b. Pembentukan
pendapat.
Pembentukan
pendapat berarti meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih.
Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat. Pendapat dapat dibedakan
menjadi tiga macam, yaitu; (1) pendapat afirmatif, (2) pendapat negatif, dan
(3) pendapat modalitas atau kebarangkalian.
c. Penarikan
kesimpulan atau pembentukan keputusan.
Keputusan adalah
hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan
pendapat-pendapat yang telah ada. Ada
tiga macam keputusan, yaitu;
1) Keputusan
induktif, yaitu keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat khusus menuju ke
satu pendapat umum.
Contoh: Kambing
mempunyai mata.
Gajah
mempunyai mata.
Kerbau
mempunyai mata.
Jadi
(conclusion), semua binatang
mempunyai mata.
2) Keputusan
deduktif, yaitu keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat umum menuju ke
satu pendapat khusus.
Contoh: Semua orang
membutuhkan udara.
Semua
psikolog adalah orang.
Jadi
(conclusion), semua psikolog
membutuhkan udara.
3) Keputusan
analogis, yaitu keputusan yang diperoleh dengan cara membandingkan atau
menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada.
Contoh: Umi
adalah lulusan Fakultas Psikologi Unair.
Umi
dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Oce
adalah lulusan Fakultas Psikologi Unair.
Jadi
(conclusion), Oce dapat menjalankan
tugasnya dengan baik.
7. Perasaan.
Perasaan adalah gejala
psikis yang bersifat subjektif, yang umumnya berhubungan dengan gejala-gejala
mengenal, dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai
taraf.
Menurut Bigot, dkk (1950,
dalam Suryabrata, 2004) perasaan dapat dibedakan menjadi dua, yakni:
a. Perasaan jasmaniah, meliputi:
1) Perasaan-perasaan indriah, yaitu
perasaan-perasaan yang berhubungan dengan perangsangan terhadap panca indra
seperti: sedap, manis, asin, pahit, panas, dan sebagainya.
2) Perasaan vital, yaitu perasaan-perasaan
yang berhubungan dengan keadaan jasmani pada umumnya, seperti: perasaan segar,
lelah, sehat, lemah, tak berdaya, dan sebagainya.
b. Perasaan rohaniah, meliputi:
1) Perasaan intelektual.
Perasaan intelektual adalah perasaan
yang berkaitan dengan kesanggupan intelek (pikiran) dalam menyelesaikan masalah
yang dihadapi. Misalnya, seseorang akan merasa senang apabila diterima dalam
suatu seleksi, sebaliknya akan kecewa apabila tidak diterima.
2) Perasaan kesusilaan.
Perasaan kesusilaan disebut juga
perasaan etis, yaitu perasaan seputar baik-buruk. Perasaan ini terkait erat
dengan norma-norma sosial yang hidup ditengah-tengah masyarakat. Artinya,
nilai-nilai yang bersifat individual harus mengacu kepada norma yang
melingkupinya (norma sosial).
3) Perasaan keindahan.
Perasaan keindahan ini disebut juga
perasaan estetis, yaitu perasaan karena seseorang menghayati sesuatu yang indah
atau tidak indah.
4) Perasaan sosial.
Perasaan sosial adalah perasaan yang
mengikatkan individu dengan sesama manusia. Misalnya perasaan untuk bergaul,
bergotong-royong, dan sebagainya.
5) Perasaan harga diri.
Perasaan harga diri dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu perasaan harga diri yang positif (puas, senang,
bangga, ketika mendapatkan prestasi, dan sebagainya) dan perasaan harga diri
yang negatif (kecewa, sedih, ketika mendapatkan celaan atau hukuman dan
sebagainya).
6) Perasaan
keagamaan.
Perasaan
keagamaan adalah perasaan ynag berkaitan dengan keyakinan seseorang terhadap
Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya rasa syukur atas anugerah yang diterima, dan
sebagainya.
8. Motif-motif.
Sebagaimana pengertian
motif yang sudah dipaparkan pada Bab I, yang dikemas berdasarkan beberapa
pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, maka perlu ditekankan bahwa motif adalah potensi kekuatan yang ada dalam diri individu.
Potensi kekuatan itu merupakan kesiapsiagaan untuk melakukan aktivitas tertentu,
dan kesiapsiagaan itu dapat dipicu oleh stimulasi internal maupun eksternal. Pengertian motif berkenaan dengan pembahasan mengenai
“faktor-faktor psikologis yang mendasari aktivitas manusia dalam belajar” ini,
tidak dimaksudkan untuk mengulang-ulang pembahasan sebelumnya, namun
semata-mata sebagai upaya untuk menyajikan peta kognitif (cognitive map) tentang bagaimana kedudukan motivasi belajar dalam
hubungannya dengan faktor-faktor lainnya.
Mencermati bahasan ini, ditemukan semacam
“aha-Erlebnis” (pengalaman aha), ternyata
motivasi belajar bukanlah faktor tunggal yang mendorong individu ke arah “keberhasilan
dalam belajar,” tetapi ternyata juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis
lainnya. Namun demikian, dapat dipastikan bahwa motivasi belajar memiliki
peranannya yang khas, yaitu berperan penting menumbuhkan gairah siswa dalam
belajar.
Demikianlah ulasan tentang Faktor-Faktor Psikologis yang Mendasari Aktivitas dalam Belajar (bagian
2). Semoga bermanfaat bagi
Anda yang membutuhkannya.