Posted by Laulaka on Minggu, 17 Juli 2016
Faktor-faktor psikologis yang mendasari aktivitas
seseorang dalam hubungannya dengan belajar dipandang perlu untuk diketengahkan
diawal pembahasan mengenai “Motivasi Belajar” ini, dengan maksud agar kedudukan
motivasi belajar sebagai bagian dari konsep motivasi dapat lebih dipahami
secara komprehensif. Menurut Staton (1978, dalam Sardiman, 2008) ada enam macam
faktor psikologis yang diperlukan dalam kegiatan belajar, antara lain:
1. Motivasi.
Seseorang akan berhasil dalam belajar apabila pada
dirinya ada keinginan untuk belajar. Dorongan untuk belajar (sebagaimana telah
disinggung pada Bab I dan Bab II), kemudian disebut sebagai motivasi belajar.
Motivasi dalam belajar ini meliputi dua hal penting, yakni; (1) mengetahui apa
yang akan dipelajari, dan (2) memahami mengapa hal tersebut patut dipelajari.
Kedua unsur ini merupakan dasar dan awal yang baik untuk belajar.
2. Konsentrasi.
Konsentrasi adalah pemusatan segenap kekuatan (energi
mental) yang sengaja ditujukan pada suatu situasi belajar. Unsur motivasi juga
memegang peranan dalam proses pemusatan perhatian, sehingga mampu menyuguhkan
“daya beda” antara orang yang memusatkan perhatian dengan orang yang memberikan
perhatian sekedarnya.
3. Reaksi
Keterlibatan unsur fisik dan mental sangat diperlukan
dalam belajar, dan itu merupakan wujud suatu reaksi. Segenap panca indra harus
bekerja secara harmonis agar siswa yang belajar itu bertindak atau mampu
melakukannya. Belajar harus aktif, bukan apa adanya, bukan pasif dan menyerah
pada lingkungan (environment) dimana
individu berada, dan semua itu dapat dipandang sebagai tantangan yang memerlukan
reaksi. Reaksi yang melibatkan ketangkasan mental, kewaspadaan, perhitungan,
ketekunan, dan kecermatan untuk menangkap fakta-fakta dan ide-ide sebagaimana disampaikan
oleh pengajarnya. Jadi kecepatan daya kognisi seseorang dalam memberikan
respons merupakan faktor yang penting dalam belajar.
4. Organisasi
Belajar juga dapat dikatakan sebagai kegiatan
mengorganisasi, menata atau menempatkan bagian-bagian bahan pelajaran ke dalam
suatu kesatuan pengertian. Dalam hal ini dibutuhkan keterampilan mental untuk
mengorganisasikan stimulus (fakta-fakta atau ide-ide), sehingga keterurutan (sequence) materi yang ditangkap itu
menjadi utuh.
5. Pemahaman.
Pemahaman (comprehension)
dapat dimaknai menguasai sesuatu dengan pikiran. Karena itu belajar berarti harus
mengerti secara mental makna dan filosofisnya, maksud dan implikasinya serta
aplikasi-aplikasinya, sehingga siswa dapat memahami suatu situasi. Pemahaman
tentu tidak sekedar tahu, tetapi mengerti secara mendalam (insight).
6. Ulangan.
Umumnya para ahli memandang ingatan sebagai hubungan
antara pengalaman dengan masa lampau. Setiap orang tentu dapat lupa, namun itu
merupakan gejala psikologis yang harus diatasi. Sehubungan dengan kenyataan
itu, untuk mengatasi lupa maka diperlukan adanya kegiatan “ulangan” berkenaan
dengan materi yang sudah dipelajari siswa. Dengan asumsi bahwa apa yang dialami
manusia tidak seluruhnya hilang, tetapi sebagian yang dimasukkan (encoding) itu disimpan (storage), dan suatu ketika ditimbulkan
kembali (retrieval).