Pada
artikel terdahulu sudah dibahas mengenai gaya belajar, antara lain gaya belajar
yang mengandalkan visual, auditory, dan kinesthetic atau tactile. Selain mengoptimalkan gaya belajar
yang dimiliki, faktor kecerdasan atau inteligensi juga sering disebut-sebut sebagai
pendukung utama keberhasilan seseorang dalam belajar. Melalui artikel pada blog
yang sederhana ini penulis ingin berbagi cara sederhana dalam belajar tetapi dengan
hasil yang luar biasa, atau dengan kata lain belajarnya biasa-biasa saja tetapi
prestasi belajarnya pantas dibanggakan. Apa rahasianya?
Ada banyak prinsip-prinsip belajar yang telah dikemukakan oleh para
ahli, perbedaan-perbedaan penekanan semata-mata berpijak pada teori yang
melandasinya. Psikologi gestalt
misalnya, menekankan prinsip belajar yang harus bersifat keseluruhan (bukan
bagian-bagian yang terpisah), mementingkan pemahaman (insight); psikologi humanistik misalnya, menekankan prinsip belajar
sejalan dengan pandangan terhadap manusia bahwa manusia itu mempunyai kemampuan
untuk belajar secara alami, belajar yang bermakna diperoleh dengan
melakukannya; namun secara umum, Gagne (1979, dalam Pidarta, 1997)
mengetengahkan beberapa “prinsip belajar” sebagai bagian dari telaahan dari
Psikologi Belajar, yang sebaiknya menjadi pengetahuan guru dalam menghadapi
siswa, sebagai berikut:
a. Kontiguitas,
memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidik tentang
respons anak yang diharapkan, beberapa kali secara berturut-turut.
b. Pengulangan,
situasi dan respons anak diulang-ulang atau dipraktikkan agar belajar lebih
sempurna dan lebih lama diingat.
c. Penguatan,
respons yang benar, misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan dan menguatkan
respons itu.
d. Motivasi,
pentingnya motivasi yang positif dan rasa percaya diri dalam belajar.
e. Tersedianya
materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas siswa.
f. Ada
upaya untuk membangkitkan keterampilan intelektual untuk belajar, seperti
apersepsi dalam mengajar.
g. Ada
strategi yang tepat untuk mengaktifkan siswa dalam belajar.
h. Aspek-aspek
jiwa siswa harus dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam pengajaran.
Lebih
lanjut Gagne menerangkan bahwa tiga butir pertama (a, b, dan c) disebut sebagai
faktor-faktor ekstern yang mempengaruhi hasil belajar, sedangkan sisanya adalah
sebagai faktor-faktor intern. Faktor-faktor ekstern lebih banyak dapat
ditangani oleh guru selalu pendidik, sementara itu faktor-faktor intern
dikembangkan sendiri oleh siswa di bawah arahan dan strategi mengajar yang
diterapkan oleh guru. Mengenai hal ini akan dikupas secara tersendiri melalui
artikel-artikel berikutnya.
Berdasarkan
pengalaman penulis yang jauh dari cerdas tetapi mampu lulus cum laude pada hampir setiap Strata
pendidikan tinggi, CARA SEDERHANA DALAM BELAJAR DENGAN HASIL LUAR BIASA sudah
terbukti dengan menerapkan beberapa prinsip-prinsip di atas yang menghasilkan
ketekunan (persistence), di tambah
beberapa strategi khusus, antara lain:
a. Jangan belajar
karena hanya ingin “membanding-bandingkan” hasil belajar Anda dengan teman-teman sekelas,
tetapi belajarlah karena merasa penting untuk “menguasai” mata pelajaran atau
mata kuliah itu. Meskipun tidak salah berlomba-lomba (membanding-bandingkan),
tetapi akan lebih baik hasilnya manakala Anda belajar karena ingin “menguasai”,
sebab dengan demikian - tanpa Anda sadari - pencapaian kemampuan Anda yang
muncul melalui nilai (hasil belajar) itu adalah prestasi belajar Anda yang
optimal. Singkatnya, sebaiknya Anda lebih mengutamakan “mastery goal orientation”, daripada “performance goal orientation”.
b. Jangan pernah
menunda-nunda (procrastination) mengerjakan
PR atau tugas-tugas yang diberikan oleh guru atau dosen, sebab sekali tertunda tugas-tugas
yang lain akan menjadi akibat dari penundaan itu. Jika itu terjadi, maka hasil terbaik
yang menggambarkan potensi yang Anda miliki tidak akan muncul sesempurna yang
Anda inginkan.
c. Ketersediaan waktu
belajar bagi sebagian besar siswa atau mahasiswa, bukanlah masalah, tetapi
mengapa pencapaian hasil belajarnya masih rendah? (Banyak jawaban terhadap
pertanyaan ini, antara lain Anda dapat membaca content dari menu Learning
Disability). Oleh sebab itu, jadikanlah rentang waktu sekolah atau kuliah
Anda sebagai kesempatan untuk menguasai mata pelajaran atau mata kuliah, karena
memang “tugas utama” Anda adalah belajar.
d. Strategi
bimbingan, terutama mahasiswa-mahasiswa program magister (S2), terlebih lagi
program doktor (S3), tentu saja tidak selalu mudah untuk bertemu pembimbing
yang sebagian besar adalah professor. Lalu bagaimana strategi jitunya, “ilmu
diperoleh, penelitian berjalan lancar, lulus tepat waktu, dengan hasil yang membanggakan?”
(maaf, penulis tidak menggunakan kata “memuaskan”, sebab dalam kriteria kelulusan,
“memuaskan” berarti lulus dengan status biasa-biasa saja alias paling rendah). Strategi
penulis ketika menempuh S2 dan S3, barangkali layak untuk Anda ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Caranya, sebelum menemui
dosen pembimbing, terlebih dahulu Anda membuat "daftar pertanyaan" – dari yang
sama sekali Anda tidak tahu hingga Anda tahu tetapi masih samar-samar. Setelah bimbingan,
tentu Anda mendapat masukan, pahami atau kerjakan petunjuk dosen itu dengan sebaik-baiknya. Pada
saat bimbingan berikutnya, buat lagi "daftar pertanyaan", dan Anda perlu melakukan penegasan (confirmation) tentang apa yang sudah Anda pahami atau dikerjakan - sesuai petunjuk dosen
pembimbing terdahulu - apakah sudah benar atau belum. Setelah itu, Anda bertanya lagi sesuai daftar pertanyaan yang
sudah Anda buat. Bimbingan pada kesempatan berikutnya juga seperti itu, selalu menggunakan pola "tanya - konfirmasi". Demikian seterusnya bergulir, dan jika Anda juga berhasil menerapkan
strategi ini, jangan lupa traktir penulis yaa.. wkwkwkwkwkkkk…
Demikanlah
ulasan tentang CARA BELAJAR SEDERHANA DENGAN HASIL LUAR BIASA, semoga
bermanfaat bagi Anda, bagi keluarga Anda, dan bagi kemajuan dunia pendidikan Indonesia
secara luas.