Posted by Laulaka on Rabu, 06 Juli 2016
Pak Kepala Desa (Kades) memiliki hobby memelihara burung, banyak sekali jenis-jenisnya. Pada suatu
pagi, betapa kagetnya Pak
Kades, karena burung-burung kesayangannya itu hilang semuanya. Pak Kades sangat
sedih bercampur geram. Merasa ulah maling sudah keterlaluan, lalu Pak Kades merencanakan mengumpulkan seluruh warga desa, siapa tahu pelakunya
adalah warganya sendiri. Pada waktu yang sudah ditetapkan, seluruh warga desa
berkumpul di Kantor Desa.
Pak Kades memulai pembicaraan yang
bersifat memberi nasehat… baik
dari sudut pandang agama maupun moral. Tiba-tiba Pak Kades bertanya kepada seluruh warga yang hadir,
“Siapa yang punya burung?”
⃰Seluruh
laki-laki yang hadir pun
berdiri.
Menyadari
kesalahannya dalam bertanya, Pak Kades buru-buru meralatnya, dengan berkata, ”Bukan… bukan.. bukan itu maksud saya? Maksud
saya…
siapa yang pernah melihat burung?”
⃰Seluruh
wanita
yang hadir pun
berdiri.
Wahhhh…. gawat…. gawat… pikir
Pak Kades..
Dengan
ekspresi wajah marah
Pak Kades berkata,
“Maksud saya…
siapa yang pernah melihat
burung bukan miliknya?”
⃰Separuh
dari wanita yang hadir berdiri.
Tampak dari raut wajahnya… Pak Kades semakin marah, gugup bercampur malu… Pak Kades melanjutkan
pembicaraan.. ”Maaf sekali lagi.. bukan ke arah situ pertanyaan saya,
maksud saya adalah siapa yang pernah melihat burung saya?”
⃰Tak disangka-sangka… 2 janda.. dan ada 4 gadis.. berdiri..
Pak Kades langsung lari tunggang langgang… karena sang
istri tampak siap melemparkan bangku ke arahnya.