Pada umumnya orang memandang matematika sebagai mata pelajaran yang
paling sulit. Meskipun demikian, semua orang harus mempelajarinya, karena
merupakan sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Menurut
Suriasumantri (2007) matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian
makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika
bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan
kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanyalah sekumpulan rumus-rumus yang mati.
Matematika adalah metode berpikir logis. Demikian pentingnya matematika,
sehingga Bertrand Russel sebagaimana dikutip Suriasumantri (2007) menyimpulkan
bahwa matematika adalah masa kedewasaan logika, sedangkan logika adalah masa
kecil matematika.
Matematika bukan sekedar berhitung (aritmetika), karena matematika
memiliki cakupan yang luas. Menurut Johnson dan Myklebust (1967; dalam
Abdurrahman, 2003), matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya
untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan
fungsi teoretisnya adalah untuk memudahkan berpikir.
Bidang studi matematika yang diajarkan di SD mencakup tiga cabang, yakni
aritmetika, aljabar, dan geometri. Aritmetika atau berhitung adalah cabang
matematika yang berkenaan dengan sifat hubungan-hubungan bilangan-bilangan,
seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Dalam perkembangan
aritmetika, bilangan sering diganti abjad. Penggunaan abjad dalam aritmetika
inilah yang disebut aljabar. Aljabar tidak hanya menggunakan abjad sebagai
lambang bilangan yang diketahui atau belum diketahui, aljabar juga menggunakan
symbol lebih besar (>), lebih kecil (<), dan sebagainya (Naga, 1980;
dalam Abdurrahman, 2003). Berbeda dengan aritmetika dan aljabar, geometri
adalah cabang matematika yang berkenaan dengan titik dan garis. Titik adalah
pernyataan tentang posisi yang tidak memiliki panjang dan lebar, sedangkan
garis hanya dapat diukur panjangnya (Maryunis, 1989; dalam Abdurrahman, 2003).
Mengapa mempelajari matematika itu penting? Menurut Cornelius (1982;
dalam Abdurrahman, 2003), karena matematika merupakan (1) sarana berpikir yang
jelas dan logis, (2) sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, (3)
sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) sarana
untuk mengembangkan kreativitas, (5) sarana untuk meningkatkan kesadaran
terhadap perkembangan budaya.
Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah, matematika
merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa, baik yang
tidak berkesulitan belajar dan terlebih-lebih bagi siswa yang bersulitan
belajar. Anak-anak yang berkesulitan belajar matematika disebut dyscalculis atau dyscalculia. Dalam Bahasa Yunani, kaya dys berarti buruk (bad or
badly), kasar (harsh), salah (wrong); sakit (ill); sulit untuk (hard to),
sulit di (difficult at); lambat dari (slow of); berantakan (disordered); gangguan (impaired), cacat (defective). Sementara itu, calculia
berakar dari Bahasa Latin calculare yang berarti menghitung (to count), yang berkaitan dengan penghitungan (calculation) dan calculus. Ketidakmampuan matematika (mathematical disabilities) dapat
terjadi sebagai hasil dari beberapa jenis cedera otak (brain injury), dalam hal ini istilah yang tepat adalah acalculia. Istilah acalculia ini untuk membedakannya dari dyscalculia, kesulitan matematika bawaan lahir, genetik atau perkembangan asalnya.
Istilah dyscalculia
memiliki konotasi medis, yang
memandang adanya keterkaitan dengan
gangguan sistem saraf pusat. Menurut
Lerner (dalam Abdurrahman 2003), ada
beberapa karakteristik dyscalculia, antara lain:
a. Adanya gangguan hubungan
keruangan, yaitu hubungan ruang (atas-bawah, puncak-dasar, jauh-dekat, tinggi-rendah,
depan-belakang, awal-akhir). Hal ini berakibat terganggunya pemahaman sistem
bilangan secara
keseluruhan, misalnya
tidak tahu bahwa jarak angka 3 ke 4 lebih dekat daripada jarak angka 3 ke angka 6.
b. Abnormalitas persepsi visual,
seperti merasa sulit melihat objek dalam satu kelompok, tidak dapat membeda-bedakan bentuk
geometris, sulit memahami simbol matematika.
c. Asosiasi visual-motor,
seperti yang
mungkin terjadi pada anak-anak yang hafal bilangan tanpa memahami maknanya.
d. Perseverasi, perhatiannya
melekat pada satu objek dalam jangka waktu yang relatif lama, misalnya 5 + 4 = 9, 4 + 4 = 9,
3 + 4 = 9. Jadi, angka 9 ini
diulang beberapa kali tanpa memperhatikan kaitannya dengan “soal matematika” yang dihadapi.
e. Kesulitan mengenal dan
memahami simbol, misal +, -, =,
<, >, dan sebagainya.
f. Gangguan penghayatan tubuh,
seperti misalnya menggambar tubuh manusia tanpa kepala atau tangan muncul dari
kepala.
g. Kesulitan dalam bahasa dan membaca, misalnya anak yang sulit memahami soal ceritera dalam matematika.
h. Skor IQ Performance
lebih rendah dari skor IQ Verbal.
Ada
beberapa dugaan faktor penyebab dyscalculia, antara lain:
a. Kelemahan pada proses
penglihatan atau visual.
Anak-anak yang memiliki kelemahan ini juga berpotensi
mengalami gangguan dalam mengeja dan menulis dengan tangan.
b. Bermasalah dalam hal mengurut informasi.
Anak-anak yang kesulitan dalam mengurutkan dan mengorganisasikan
informasi secara detail, umumnya juga akan sulit mengingat sebuah fakta, konsep
ataupun formula dalam menyelesaikan kalkulasi matematis.
Jika problem ini yang
menjadi penyebabnya, maka anak cenderung mengalami hambatan pada aspek
kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan mengeja, serta apa pun yang membutuhkan kemampuan mengingat kembali
hal-hal detail.
c. Fobia matematika.
Anak-anak yang pernah mengalami trauma dengan
pelajaran matematika bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak
diatasi segera, ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung
unsur hitungan.
Demikianlah
ulasan jenis-jenis Learning Disability, dalam hal ini tentang kesulitan matematika (dyscalculia). Semoga ulasan ini bermanfaat
bagi Anda yang membutuhkannya.