Selain dyslexia,
jenis Learning Disability lainnya
adalah dysgraphia. Apakah yang
dimaksud dengan dysgraphia? Dysgraphia
berasal dari Bahasa Yunani, dari akar kata dys
yang berarti impaired (gangguan
atau kesulitan), dan graphia yang berarti
“membentuk huruf dengan tangan” atau menulis. Basis masalahnya adalah otak,
bukan karena orang tersebut malas.
Perlu diketahui bahwa tidak semua kalangan professional
menggunakan istilah dysgraphia untuk
menyebut individu dengan kesulitan menulis. Di dalam The Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders-5 (DSM-5) misalnya, tidak menggunakan istilah dysgraphia,
tetapi menggunakan ungkapan “an impairment in written expression” (suatu gangguan dalam mengekspresikan tulisan tangan).
Seperti dyslexia yang dikategorikan berat
disebut alexia, pada kesulitan
menulis (dysgraphia) yang dikategorikan
berat disebut agraphia.
Apa yang dimaksud dengan menulis?
Sebagian besar orang lebih senang membaca daripada
menulis, termasuk penulis. Namun demikian, bukan berarti menulis itu tidak
penting, bagi siswa justru sangat
dibutuhkan untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas
sekolah. Menurut Lerner (1985; dalam Abdurrahman, 2003) menulis adalah
menuangkan ide ke dalam suatu bentuk visual. Markam (1989; dalam Abdurrahman,
2003) memaknai menulis sebagai cara seseorang untuk mengungkapkan bahasa dalam
bentuk simbol gambar. Menulis merupakan aktivitas yang kompleks, yang mencakup
gerakan tangan, jari, dan mata secara terintegrasi.
Pelajaran menulis mencakup (1) menulis dengan tangan
atau menulis permulaan, (2) mengeja, dan (3) menulis ekspresif. Sejak awal
masuk sekolah, anak-anak harus belajar menulis dengan tangan karena kemampuan
ini merupakan prasyarat bagi upaya belajar berbagai bidang studi yang lain. Menurut
Lerner (1985; dalam Abdurrahman, 2003) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kemampuan anak untuk menulis, yakni (1) motorik, (2) perilaku, (3) persepsi,
(4) memori, (5) kemampuan melaksanakan cross
modal, (6) penggunaan tangan yang dominan, dan (7) kemampuan memahami instruksi.
Dysgraphia juga seringkali dikaitkan dengan dyslexia, karena kedua jenis kesulitan ini sesungguhnya saling terkait.
Kesulitan belajar menulis (dysgraphia) seringkali terkait dengan cara anak memegang pensil
yang “salah”, antara lain: (1) sudut pensil terlalu besar, (2) sudut pensil
terlalu kecil, (3) menggenggam pensil (seperti mau meninju), (4) menyangkutkan
pensil di tangan atau menyeret (Hornsby, 1984; dalam Abdurrahman, 2003).
Hingga saat ini ada dua pendapat tentang bentuk
tulisan yang harus dipelajari pada awal-awal anak belajar menulis. Ada yang
berpendapat bahwa anak harus belajar huruf cetak dahulu, kemudian belajar huruf
sambung (Lovitt, 1989; dalam Abdurrahman, 2003). Sementara itu, menurut
Abdurrahman (2003) para menyarankan supaya belajar huruf sambung terlebih
dahulu, kemudian belajar huruf cetak, dengan alasan antara lain:
a. Tulisan sambung memudahkan
anak untuk mengenal kata-kata sebagai satu kesatuan.
b. Tidak memungkinkan anak
menulis secara terbalik-balik.
c. Menulis dengan huruf sambung
lebih cepat, karena tidak ada gerakan pensil yang terhenti untuk setiap huruf.
Selanjutnya, pelajaran menulis juga terkait dengan “mengeja”. Menurut
Lerner (1985, dalam Abdurrahman, 2003) ada dua cara guru untuk mengajarkan
mengeja, (1) mengeja melalui pendekatan linguistic, dan (2) mengeja melalui
pendekatan kata-kata. Mengajar mengeja melalui pendekatan linguistic, artinya
menekankan aturan dalam bahasa, sehingga harus memperhatikan fonologi,
morfologi, dan sintaksis atau pola-pola kata. Untuk mengajarkan “au” misalnya,
guru dapat memberikan kata-kata seperti “surau”, “kerbau”, “pisau” dan
sebagainya. Selanjutnya, mengeja melalui pendekatan kata-kata, dalam Bahasa
Indonesia relative tidak ada perubahan, dan oleh karena itu, pengajaran mengeja
melalui pendekatan linguistic dirasakan lebih tepat.
Selanjutnya, pelajaran menulis juga terkait dengan “menulis ekspresif”,
dalam hal ini, menulis ekspresif adalah mengungkapkan pikiran dan/atau perasaan
ke dalam suatu bentuk tulisan, sehingga dapat dipahami oleh orang lain yang
sebahasa. Menurut Roit dan McKenzie, sebagaimana dikutip oleh Lovitt (1989;
dalam Abdurrahman, 2003) ada tiga alasan yang menyebabkan kesulitan menulis
ekspresif, antara lain: (1) meskipun pendekatan analisis tugas mungkin sesuai
untuk pengajaran matematika dan mungkin juga membaca, pendekatan ini tidak
sesuai untuk mengembangkan kemampuan menulis; (2) meskipun anak memperoleh
banyak latihan tentang elemen-elemen menulis, mereka tidak memperoleh
kesempatan yang cukup untuk menulis ekspresif; (3) karena anak berkesulitan
belajar kurang memiliki keterampilan metakognitif bila dibandingkan dengan anak
yang tidak berkesulitan belajar.
Oleh sebab itu, Roit dan McKenzie menyarankan agar guru lebih peka dan memotivasi
anak untuk menulis, dengan cara menyusun jadwal dalam situasi dan konteks yang
bervariasi, serta terus membangkitkan rasa ingin tahu siswa.
Ada beberapa karakteristik dysgraphia, antara lain:
a. Ekspresi
tulisan cenderung pendek dan miskin penggambaran ide.
b. Sulit
menganalisis bunyi dan struktural untuk mengeja suatu kata.
c. Gangguan
motorik halus menyebabkan tulisan tangan buruk.
Beberapa cara intervensi untuk siswa-siswa yang mengalami kesulitan menulis (dysgraphia), antara lain:
a. Gunakan
ujian lisan.
b. Perbolehkan
ia merekam materi pelajaran dengan
video atau casset.
c. Sediakan
catatan ringkasan untuk
siswa-siswa dysgraphia.
d. Kurangi
tugas-tugas yang
mengharuskan siswa menyalin.
Demikianlah ulasan tentang dysgraphia (kesulitan menulis), merupakan bagian dari Learning Disability yang seringkali
ditemui di sekolah-sekolah, terutama pada siswa-siswa Sekolah Dasar. Semoga ulasan
singkat ini bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.