Pada
artikel terdahulu sudah dibahas beberapa peran guru, antara lain sebagai Tenaga Professional, Sumber Belajar, Fasilitator, Manager, Demonstrator, dan Pembimbing.
Selain beberapa peran tersebut, guru juga berperan sebagai motivator siswa dalam
belajar. Peran guru sebagai motivator dalam proses belajar siswa sangat penting
artinya, sebab sering terjadi siswa yang kurang berprestasi di sekolah, bukan
disebabkan oleh kekurangmampuannya (misalnya terkait dengan aspek inteligensi),
namun lebih disebabkan oleh kurangnya motivasi siswa yang bersangkutan untuk
belajar. Artinya, rendahnya prestasi belajar siswa yang bersangkutan bukan
disebabkan oleh faktor kecerdasan namun disebabkan oleh tidak adanya usaha
untuk mengerahkan segala kemampuannya. Pada situasi seperti itu, adalah
kewajiban guru untuk mendinamisasikan potensi siswa. Menurut DeCecco &
Grawford (1974, dalam Slameto, 2003) sehubungan dengan pemeliharaan dan peningkatan
motivasi siswa, ada empat fungsi guru, yakni:
a. Menggairahkan siswa.
Salah satu cara yang paling mungkin
dilakukan oleh guru adalah menghindari hal-hal yang bersifat monoton dan
cenderung mudah mendatangkan rasa bosan. Guru harus selalu memberikan kepada
siswanya banyak hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan.
b. Memberikan harapan yang realistis.
Guru harus memberikan dan memelihara
harapan-harapan siswa yang realistis, dan memodifikasi harapan-harapan yang
kurang atau tidak realistis.
c. Memberikan insentif.
Ketika siswa berhasil dalam tugasnya,
maka sudah seharusnya guru memberikan reward dengan tujuan memperkuat
perilaku yang diinginkan dan memberikan balikan kepada siswa atas apa yang
telah mereka lakukan dengan baik. Pujian akan sangat efektif dalam situasi yang
tepat, sejauh itu mengacu pada kinerja yang jelas, spesifik, dan dapat
dipercaya.
Menurut Nur (2001) pujian dapat
merupakan motivator efektif di dalam situasi kelas. Namun Nur mengingatkan,
bahwa pujian akan menjadi efektif, apabila diberikan dengan cara-cara yang
tepat, yaitu:
1) Diberikan
mengacu pada kinerja yang jelas (kontigensi).
2) Menyertakan
fakta-fakta khusus (spesifisitas) dari pencapaian.
3) Menunjukkan spontanitas, keragaman, dan
tanda-tanda lain agar pujian dapat dipercaya (kredibilitas); memberi kesan
menaruh perhatian yang tulus kepada pencapaian siswa.
4) Ganjaran atas hasil karya ditetapkan
berdasarkan kriteria kinerja (yang dapat meliputi kriteria upaya).
5) Menyediakan informasi bagi siswa tentang kompetensi
mereka atau bobot nilai dari pencapaian-pencapaian mereka.
6) Mengorientasikan siswa ke arah apresiasi yang
lebih baik atas perilaku mereka sendiri yang relevan dengan tugas dan berpikir
tentang pemecahan masalah.
7) Menggunakan bekal pencapaian awal siswa
sendiri sebagai dasar untuk mendeskripsikan pencapaian sekarang.
8) Mempertalikan keberhasilan dengan upaya dan
kemampuan, secara tidak langsung menyatakan bahwa keberhasilan serupa dapat
diharapkan dimasa-masa yang akan datang.
9) Diberikan sebagai pengakuan upaya atau
keberhasilan atas tugas-tugas yang sulit yang patut diperhatikan.
10) Memfokuskan perhatian siswa pada perilaku
mereka sendiri yang relevan dengan tugas.
11) Membantu perkembangan apresiasi atas perilaku
yang relevan dengan tugas setelah proses itu diselesaikan.
d. Mengarahkan
Guru harus mengarahkan tingkah laku
siswa, dengan cara menunjukkan pada hal-hal yang belum benar yang telah mereka
kerjakan dan meminta pada mereka untuk melakukan sebaik-baiknya.
Untuk
memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif dalam
membangkitkan motivasi belajar siswa. Menurut Sanjaya (2008) ada sejumlah
petunjuk yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi belajar siswa,
yakni:
a. Memperjelas
tujuan yang ingin dicapai.
Tujuan yang jelas dapat membuat siswa
paham ke arah mana ia akan dibawa. Semakin jelas tujuan itu ditetapkan akan
semakin kuat pula motivasi belajar siswa.
b. Membangkitkan
minat siswa.
Siswa akan terdorong untuk belajar
apabila mereka memiliki minat untuk belajar. Cara yang dapat dilakukan guru
adalah menghubungkan bahan pelajaran dengan kebutuhan siswa, menyesuaikan
materi pelajaran dengan tingkat pengalaman, serta menggunakan pelbagai model
dan strategi pembelajaran secara bervariasi.
c. Menciptakan
suasana yang menyenangkan dalam belajar.
Suasana yang menyenangkan dapat
dianggap sebagai suasana yang kondusif, suasana yang membuat siswa merasa aman,
bebas dari rasa takut, dan tentu merupakan suasana yang diharapkan. Untuk itu,
guru dapat menyelipkan humor dalam proses belajar itu.
d. Memberikan pujian yang wajar terhadap
setiap keberhasilan siswa.
Memberikan pujian pun, sebagaimana
diuraikan Nur (2001) di atas, harus diberikan dengan cara-cara yang tepat.
Pujian tidak harus verbal, nonverbal juga dapat dimanfaatkan, misalnya dengan
senyum, anggukkan yang wajar, atau melalui tatapan mata yang meyakinkan.
e. Memberikan
penilaian.
Banyak siswa belajar karena ingin
mendapatkan “imbalan’ berupa nilai yang bagus. Bagi sebagian siswa, nilai juga
dapat menjadi pemicu motivasi yang kuat untuk belajar. Penilaian harus
dilakukan secara objektif, agar siswa dapat mengetahui kemampuan mereka
masing-masing.
f. Memberikan komentar terhadap hasil
pekerjaan siswa, yaitu komentar-komentar yang positif.
g. Menciptakan persaingan dan kerja sama.
Model pembelajaran cooperative
learning dapat dijadikan pilihan bagi siswa untuk bersaing antarkelompok
dan bekerja sama intern kelompok.
Demikianlah
ulasan tentang peran guru sebagai motivator dalam proses belajar siswa. Anda
juga disarankan untuk membaca Peran Guru sebagai Evaluator, pada artikel berikutnya. Semoga ulasan
ini berguna bagi Anda yang membutuhkannya.