Posted by Laulaka on Selasa, 09 Agustus 2016
Jika diperhatikan dengan seksama, dari beberapa
ulasan terdahulu, bahwa guru berperan sebagai Tenaga Profesional, Sumber Belajar, Fasilitator, Manager, Demonstrator, Pembimbing, dan Motivator, tampaknya peran
sebagai evaluator sangat menentukan kualitas performance guru dalam
proses belajar-mengajar, ketika tujuan belajar “mulai direncanakan” (planning)
untuk tahapan berikutnya. Dalam perannya sebagai evaluator, guru melakukan
pengumpulan data atau informasi mengenai sejauhmana siswa berhasil dalam proses
pembelajaran yang telah dilakukan. Guru mempunyai kewenangan untuk menilai
berdasarkan data hasil belajar siswa, sejauhmana siswa mampu menyerap materi pelajaran
yang ditetapkan dalam kurikulum. Pada saat yang bersamaan, menurut Sanjaya
(2008), evaluasi itu juga bisa ditujukan kepada guru itu sendiri. Sekilas
tentang kedua jenis evaluasi dimaksud sebagai berikut:
a. Evaluasi
untuk menentukan keberhasilan siswa.
Evaluasi untuk melihat keberhasilan
siswa dalam belajar, ditujukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebab
melalui evaluasi itu, guru dapat menarik kesimpulan dan kemudian mengambil
keputusan apakah siswa sudah layak diberikan program pembelajaran baru; atau
malah sebaliknya siswa belum bisa mencapai standar minimal, sehingga mereka
perlu diberikan program remedial. Dalam hal ini, seringkali guru beranggapan
bahwa evaluasi sama dengan tes. Dengan demikian, dianggap telah melakukan evaluasi karena
telah menyelenggarakan tes. Padahal hakikat keduanya berbeda. Tes adalah bagian
dari evaluasi. Evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan nilai atau makna
tertentu pada apa yang dievaluasi. Sayangnya, guru seringkali merasa sudah
mengevaluasi keberhasilan belajar siswa hanya karena sudah memberikan tes
tertulis kepada siswa. Akibatnya, sasaran pembelajaran hanya terbatas pada kemampuan
siswa untuk mengisi soal-soal yang biasa keluar dalam tes itu. Untuk menentukan
sejauhmana siswa berhasil mengikuti proses pembelajaran sebenarnya juga tidak
dilihat dari hasil belajar saja namun juga perlu dievaluasi dari segi proses
belajar. Sebab, proses belajar pada
dasarnya merupakan evaluasi terhadap keterampilan intelektual siswa secara
nyata.
b. Evaluasi untuk menentukan keberhasilan guru.
Evaluasi untuk menentukan keberhasilan
guru, didasarkan pada pertanyaan, “apakah guru telah melaksanakan proses pembelajaran
sesuai dengan perencanaan atau belum, apa sajakah yang perlu diperbaiki?” Evaluasi
untuk menentukan keberhasilan guru acapkali dikaitkan dengan keberhasilan siswa
dalam mengerjakan tes. Evaluasi terhadap sejauhmana keberhasilan guru tentu
saja tidak sekompleks untuk menilai keberhasilan siswa, baik ditinjau dari
aspek waktu pelaksanaan maupun dari aspek pelaksanaannya. Namun belakangan ini
evaluasi apakah seorang guru sudah berhasil dalam mengajar, seringkali
dibenturkan oleh kurikulum yang sering berganti-ganti.
Uno (2008) mengemukakan pendapatnya
terkait dengan hasil pembelajaran. Dalam pandangannya, guru juga dapat
melakukan evaluasi berdasarkan keefektifan (effectiveness), efisiensi (efficiency),
dan daya tarik (appeal) dari pengajaran. Misalnya, terkait dengan
keefektifan (effectiveness) pembelajaran, dapat dilihat dari; (1)
kecermatan perilaku yang dipelajari, (2) kecepatan unjuk kerja, (3) tingkat
alih belajar, dan (4) tingkat retensi dari apa yang dipelajari. Lalu terkait
dengan efisiensi (efficiency) pembelajaran juga dapat dilihat dari rasio
antara keefektifan dan jumlah waktu yang digunakan siswa serta jumlah biaya
pembelajaran yang digunakan. Sedangkan daya tarik (appeal) pembelajaran
dapat diukur dengan cara mengamati kecenderungan siswa untuk tetap belajar.
Tampaknya, Uno ingin mengatakan bahwa guru harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan
pertimbangan (judgement), atas
tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan,
baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.
Demikianlah peran guru dalam proses belajar mengajar, yang menunjukkan
bahwa peran-peran tersebut tidak sederhana. Ia harus menjadi seorang perencana,
pelaku, dan evaluator yang baik, dilakukan semata-mata demi kepentingan siswa.
Semoga ulasan tentang beragam peran guru ini dapat bermanfaat bagi Anda yang
membutuhkannya.