Teori Motivasi yang penulis
sajikan melalui blog sederhana ini berikutnya adalah Teori Humanistik. Abraham Harold
Maslow (1908-1970) sebagai pelopor teori humanistic beranggapan bahwa bidang psikologi humanistic merupakan mazhab ketiga dalam psikologi Amerika, dua lainnya adalah psikoanalisis
dan behaviorisme (Hall & Lindzey, 1993). Teori humanistic
ini muncul karena ketidakpuasan Maslow terhadap Teori Psikoanalisis dan Teori Behavioral (Walgito, 2002).
Sebelum menemukan
teorinya, Maslow dididik dalam tradisi eksperimen Watson sebagai seorang behaviorist, dan Maslow cakap
mempraktikkannya. Namun Maslow merasakan ketertarikan pada pertanyaan yang
tidak sesuai dengan alasan eksperimen dalam laboratorium itu. Maslow lebih tertarik untuk memahami kondisi-kondisi yang
menghasilkan pribadi yang produkif dan matang. Dalam pemikirannya waktu itu,
jika tetap bertahan dalam metodologinya, maka dia harus meninggalkan problem
yang ingin dia ketahui atau memberi definisi yang palsu kepada pokok persoalannya.
“Jika satu-satunya alat yang kau punya adalah martil, kau akan tergoda terus
untuk memperlakukan segala sesuatu seolah-olah paku” (Maslow, 2004). Maslow rupanya
tidak tertarik pada paku, dia menolak menggantungkan label paku tersebut pada
dunia non-paku yang ingin dia pahami. Menurut Maslow, untuk mengembangkan suatu
ilmu pengetahuan yang lebih lengkap dan luas tentang manusia, maka para
psikolog harus juga mempelajari orang-orang yang telah merealisasikan
potensi-potensinya sampai sepenuh-penuhnya. Pemikiran ini yang memandunya
meneliti sifat dari apa yang disebutnya sebagai “pengalaman-pengalaman puncak”
(peak experiences). Hingga pada akhirnya
Maslow mengajukan gagasan hierarki kebutuhan manusia. Hierarki kebutuhan, yang
menurutnya merupakan cara yang menarik untuk melihat hubungan antara motif
manusia dan kesempatan yang disediakan oleh lingkungan, seraya menekankan keunikan
manusia. Adapun hierarki kebutuhan Maslow (dalam Sobur, 2003), sebagai berikut:
Maslow menjadi terkenal karena teori hierarki kebutuhan ini, yang tercermin
dalam bukunya yang berjudul Motivation
and Personality. Adapun hierarchy of
needs sebagai penjelasan dari gambar yang telah disajikan, sebagai berikut:
a. Physiological needs
Kebutuhan yang paling dasar dari setiap orang adalah
kebutuhan-kebutuhan fisiologis, seperti makan, minum, oksigen, mempertahankan
suhu tubuh, dorongan seks, tempat berteduh, tidur, dan lain-lain. Manusia yang lapar akan termotivasi untuk
makan, bukan harga diri. Dalam arti, manusia ketika itu tidak memperhatikan
apapun melampaui makannan, selama kebutuhan itu masih belum terpenuhi.
b. Safety
needs
Kebutuhan rasa aman, menurut Maslow, merupakan kebutuhan
manusia berikutnya, yaitu ketika sebagian physiological
needs manusia sudah dapat terpenuhi. Hal ini dapat mencakup rasa aman
secara fisik, perlindungan dari bahaya-bahaya yang mengancam, bebas dari rasa
takut terhadap perang ; terorisme, penyakit, bencana alam, dan lain-lain. Sehubungan
dengan pentingnya pemenuhan safety needs
ini, Maslow (1970, dalam Feist & Feist, 2008) mengingatkan bahwa mereka
yang menghabiskan banyak energi ketimbang orang sehat untuk berusaha memenuhi
kebutuhan akan rasa aman, dan jika tidak berhasil, mereka akan menderita
kecemasan dasar.
c. Belongingness and love needs
Kebutuhan untuk dicintai dan dimiliki merupakan hierarki
kebutuhan berikutnya, yaitu setelah terpenuhinya sebagian physiological needs dan safety
needs. Kebutuhan ini dapat terwujud dalam dorongan untuk bersabahat, dorongan
untuk memiliki pasangan hidup dan keturunan, memiliki kebutuhan yang lekat
dengan keluarga, lingkungan, bertetangga atau berbangsa. Kebutuhan ini juga
mencakup sejumlah aspek hubungan seksual dan hubungan antarpribadi, seperti
kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta. Cinta di sini berarti rasa sayang
dan rasa terikat (to belong),
sebagai, “keadaan dimengerti secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati”
(Sobur, 2003).
d. Esteem needs
Kebutuhan untuk dihargai merupakan kebutuhan manusia
berikutnya, yaitu setelah kebutuhan “dibawahnya” tercukupi. Kebutuhan ini
mencakup kebutuhan berprestasi, memiliki kompetensi, memperoleh persetujuan,
dan mendapatkan pengakuan. Maslow (1970, dalam Feist & Feist, 2008)
mengidentifikasikan dua tingkat kebutuhan untuk dihargai, yakni reputasi dan
harga-diri. Reputasi adalah persepsi
tentang prestise, pengakuan, atau ketenaran
yang berhasil dicapai seseorang di mata orang lain. Sedangkan harga-diri adalah
perasaan seseorang terhadap keberhargaan dan keyakinan dirinya. Harga-diri lebih mendasar ketimbang reputasi
dan prestise, karena mencerminkan “hasrat bagi kekuatan, pencapaian, ketepatan,
penguasaan, dan kompetensi, keyakinan diri menghadapi dunia, dan independensi serta
kebebasa.” Jadi, ada unsur penghargaan dari diri sendiri dan penghargaan dari
orang lain. Harga diri didasarkan pada kompetensi nyata dan bukan sekedar opini
orang lain. Menurut Feist & Feist (2008), sekali manusia dapat memenuhi
kebutuhan untuk dihargai, mereka sudah siap untuk memasuki gerbang
aktualisasi-diri, kebutuhan tertinggi yang ditemukan Maslow.
e. The need to fulfill one’s unique potential atau Self-Actualization needs
Maslow melukiskan kebutuhan aktualisasi diri ini sebagai
hasrat untuk menjadikan diri sepenuh kemampuannya sendiri. Mencakup
pemenuhan-diri (self-fulfillment),
realisasi semua potensi, dan keinginan untuk menjadi kreatif dalam arti
sepenuhnya. Siapa pun yang sudah mencapai tingkat aktualisasi-diri berarti
menjadi manusia seutuhnya, sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang bagi
orang lain hanya terlihat samar-samar atau bahkan tidak pernah dilihatnya sama
sekali. Namun, aktualisasi-diri merupakan tujuan yang tak pernah bisa dicapai
sepenuhnya. Kenapa? Budiharjo (1997, dalam Sobur, 2003) memberikan beberapa alasan,
antara lain:
1) Aktualisasi-diri merupakan kebutuhan naluriah
yang paling lemah (tidak seperti basic
physiological needs). Karena lemah, maka dapat dengan mudah dikuasai
tekanan, kebudayaan, kebiasaan, dan sikap yang salah terhadap aktualisasi-diri.
2) Orang-orang juga sering takut untuk
mengetahui diri sendiri, yang sebenarnya penting untuk aktualisasi-diri. Dengan
mengetahui diri sendiri, konsep diri seseorang dapat berubah dan secara tidak
terelakkan melibatkan dilepaskannya kepastian yang telah lama diketahui dan
dipercayai, untuk kemudian digantikan dengan konsep-konsep yang baru, hal-hal
yang tidak diketahui dan tidak pasti.
3) Aktualisasi-diri pada umumnya memerlukan
lingkungan yang memberi kebebasan kepada seseorang, bebas untuk mengungkapkan
dirinya, menjelajah, memilih perilakunya, dan mengejar nilai-nilai seperti
kebenaran, keadilan, dan kejujuran.
Jadi, pencapaian aktualisasi-diri membutuhkan kondisi lingkungan yang
menunjang. Di samping itu dibutuhkan pula keberanian dan kesediaan individu
untuk mendapatkan pengalaman baru melalui cara-cara mengungkapkan diri, menjelajah, memilih perilaku, mengejar
nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Melalui Self-Actualization needs-nya, Maslow mengajarkan dua cara dalam
memahami aktualisasi-diri, yakni kebebasan mengemukakan pendapat yang baik mengenai
orang lain, dan melakukan hal-hal tidak sekedar dikaitkan dengan hasil namun
lebih karena alasan keberadaan Anda di dunia ini.
Menurut Maslow (1970, dalam Feist & Feist, 2008) berkenaan dengan motivasi,
teorinya berdiri di atas sejumlah asumsi dasar, yaitu :
a. Mengadopsi pendekatan holistik terhadap
motivasi, yaitu seluruh orang, bukan satu bagian atau fungsi tunggalnya saja,
yang termotivasi.
b. Motivasi biasanya bersifat kompleks, artinya
perilaku seseorang bisa muncul dari beberapa motif yang terpisah. Contohnya,
hasrat untuk melakukan hubungan seks bisa dimotivasikan bukan hanya oleh
kebutuhan genital, tetapi juga oleh kebutuhan untuk mendominasi, persahabatan,
cinta, dan harga diri. Selain itu menurut Maslow, motivasi bagi tingkah laku
tertentu bisa saja tidak disadari atau tidak diketahui pribadi tersebut.
c. Manusia termotivasi secara terus menerus oleh
satu kebutuhan atau oleh kebutuhan yang lainnya. Ketika satu kebutuhan
terpenuhi, biasanya seseorang akan kehilangan daya motivasinya dan digantikan
oleh kebutuhan lain. Asumsi ini tampaknya mudah dipahami dari bagaimana
pemikiran Maslow menggambarkan hierarki kebutuhan yang bertingkat, yakni
pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar (basic
physiological needs) yang kemudian ketika kebutuhan tersebut terpenuhi
disusul oleh pemenuhan kebutuhan lainnya, seperti rasa aman, persahabatan,
harga diri, hingga aktualisasi diri.
d. Semua orang di mana pun termotivasi oleh
kebutuhan-kebutuhan dasar yang sama. Cara yang ditempuh mungkin sangat beragam,
namun kebutuhan fundamental akan makanan, rasa aman, dan persahabatan adalah
fakta umum bagi seluruh spesies manusia.
e. Kebutuhan-kebutuhan manusia dapat disusun
dalam bentuk hierarki.
Demikianlah uraian singkat tentang Teori Humanistik,
bagian dari Teori Motivasi. Teori ini meski begitu popular, tetapi juga tidak
sepi kritik, karena mengasumsikan penjenjangan kebutuhan manusia. Semoga uraian
singkat ini bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.