Posted by Laulaka on Rabu, 13 Juli 2016
Menurut
teori behavioral,
perubahan perilaku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.
Dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus dan respons.
Beberapa
ahli (Thorndike, Watson, Hull, Guthrie, & Skinner) terkenal karena karyanya
dalam teori ini (Uno, 2006). Clark Hull misalnya, sangat terpengaruh oleh teori
evolusinya Charles Darwin. Bagi Hull, sebagaimana dalam teori evolusi, semua
fungsi tingkah laku bermanfaat, terutama untuk menjaga kelangsungan hidup. Oleh
karena itu, dalam teori Hull yang disebut drive reduction theory, kebutuhan
biologis dan pemuasan menempati posisi sentral (Uno, 2008). Menurut
Hull, kebutuhan dikonsepkan sebagai
dorongan (drive), seperti lapar,
haus, tidur, hilangnya rasa nyeri, dan sebagainya. Stimulus hampir selalu
dikaitkan dengan kebutuhan biologis itu, meskipun respons mungkin bermacam-macam
bentuknya.
Suatu kebutuhan biologis pada makhluk hidup
menghasilkan suatu dorongan (drive)
untuk melakukan aktivitas memenuhi kebutuhan, sehingga meningkatkan kemungkinan
makhluk hidup melakukan respon berupa reduksi kebutuhan (need reduction response).
Hull menambahkan bahwa dorongan (motivators
of performance) dan reinforcement bekerja
bersama-sama untuk membantu makhluk hidup mendapatkan respon yang sesuai. Lebih
jauh Hull merumuskan teorinya dalam bentuk persamaan matematis antara drive (energi) dan habit (arah) sebagai
penentu dari behaviour
(perilaku). Bentuk persamaan matematis tersebut adalah behaviour = drive × habit. Oleh karena hubungan dalam persamaan
tersebut berbentuk perkalian, maka ketika drive
= 0, makhluk hidup tidak akan bereaksi sama sekali, walaupun habit yang diberikan
sangat kuat dan jelas (Berliner & Calfee, 1996, dalam Sutrisno, 2008).
Kurt
Lewin (1890-1947) mengajukan Field Theory yang dipengaruhi oleh prinsip dasar
psikologi Gestalt. Menurut Lewin (dalam http://www.psicopolis.com/Kurt/ lewinsintesi.htm),
Field Theory itu adalah "proposition that human behavior is the
function of both the person and the environment.” Jadi, perilaku (behavior) menurut Lewin dapat dipandang sebagai function (f) interaksi antara person
(P) dengan environment (E), yang
dapat dilukiskan melalui persamaan matematis behaviour = f (P, E). Menurut
Lewin, besar gaya motivasional pada seseorang untuk mencapai suatu tujuan yang
sesuai dengan lingkungannya sangat ditentukan oleh tiga faktor, yaitu tension (t) atau besar kecilnya kebutuhan, valensi (G) atau sifat
objek tujuan, dan jarak psikologis orang tersebut dari tujuan (e), atau force = f (t, G)/e.
Mengacu pada persamaan Lewin di atas, jarak psikologis
berbanding terbalik dengan besar gaya (motivasi), sehingga semakin dekat
seseorang dengan tujuannya, semakin besar pula gaya motivasinya, seperti pelari
yang sudah kelelahan melakukan sprint
ketika ia melihat atau mendekati garis finish.
Teori Lewin memandang motivasi sebagai tension
yang menggerakkan seseorang untuk mencapai tujuannya dari jarak psikologis yang
bervariasi (Berliner & Calfee, 1996, dalam Sutrisno, 2008).
Demikianlah
ulasan sekilas teori behavioral,
salah satu bagian penting dalam teori motivasi. Semoga bermanfaat bagi Anda
yang membutuhkannya.