Posted by Laulaka on Rabu, 13 Juli 2016
Sebelum melangkah
lebih jauh memasuki belantara teori-teori motivasi, ada baiknya diingatkan
kembali bahwa motivasi merupakan konsep yang menarik sekaligus rumit. Alasan
ini pula yang mengundang minat para ahli untuk menjelaskan berdasarkan locus kajiannya masing-masing. Dengan
semakin bervariasinya teori tentang motivasi yang disajikan, menunjukkan pula besarnya
usaha para ahli dalam upaya menganjurkan beragam cara individu agar potensi
yang dimiliki individu yang bersangkutan dapat digali dan dikerahkan secara
optimal untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Oleh sebab itu, sangat
beralasan apabila terhimpun beragam pemikiran di dalamnya, karena motivasi demikian
penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Berkaitan dengan pembelajaran misalnya, menurut Nur (2001), motivasi adalah
satu komponen paling penting dalam pembelajaran. Dua siswa dapat termotivasi
untuk bermain video game, namun salah
seorang dari mereka lebih kuat termotivasi untuk melakukan permainan itu daripada
yang lain. Menurut Gage dan Berliner (1984, dalam Sutrisno, 2008), motivasi merupakan sebuah konsep yang luas (diffuse), dan seringkali
dikaitkan dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi energi dan arah aktivitas
manusia, misalnya minat (interest),
kebutuhan (need),
nilai (value),
sikap (attitude),
aspirasi, dan insentif. Secara umum, teori-teori motivasi dapat dikelompokkan
berdasarkan sudut pandangnya, yaitu behavioral,
cognitive, psychoanalytic, humanistic, social learning, dan social cognition, sebagaimana
disajikan pada artikel-artikel berikut ini.