Pada artikel terdahulu sudah dibahas mengenai ”belajar”. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling
mempengaruhi. Untuk dapat memahami perilaku siswa yang memiliki motivasi
belajar, diperlukan pemahaman tentang apa yang dimaksud motivasi belajar. Menurut Entwistle (1987) motivasi merupakan konsep yang telah digunakan
secara luas baik oleh kalangan psikolog maupun pendidik untuk menjelaskan sejumlah
perbedaan peserta didik yang terkait dengan pembelajaran. Menurut Pintrich, dkk (1993, dalam DeBacker & Nelson,
2001), motivasi belajar dalam ilmu pendidikan menjadi perhatian khusus, sebab
berhubungan dengan motivasi, keterlibatan kognitif, serta perubahan konseptual.
Pintrich & Schunk (1996, dalam Shih & Gamon, 2001) menambahkan bahwa
motivasi mempengaruhi seputar bagaimana dan mengapa orang belajar serta
bagaimana mereka melakukannya.
Menurut Brophy (1988, dalam Glynn, dkk., 2005; Glynn & Koballa, 2006) motivasi
adalah keadaan internal yang membangkitkan, mengarahkan, dan menunjang perilaku
manusia. Hal ini, menurut Brophy memainkan peranan penting dalam belajar.
Selanjutnya Brophy mengartikan motivasi belajar sebagai kecenderungan siswa untuk mengetahui kegiatan-kegiatan akademik yang
bermakna dan berharga bagi dirinya, serta mencoba untuk mendapatkan
manfaat akademik itu. Brophy (1998, dalam Cheng & Yeh, 2009) menambahkan,
bahwa dalam konteks kelas, motivasi belajar mengacu
pada pengalaman subjektif siswa, terutama kesediaan siswa untuk berpartisipasi
dalam kegiatan kelas dan alasan mereka untuk melakukannya.
Menurut Wardhani (2005) motivasi
belajar menunjukkan pengertian sebagai kekuatan dalam diri siswa (energy) yang mendorong siswa melakukan
usaha-usaha mencapai tujuan belajar. Disamping itu menunjukan adanya orientasi
siswa / arah tingkah laku siswa pada pencapaian tujuan belajar. Pendapat
lainnya dikemukakan oleh Dalyono (2001) yang mengartikan motivasi belajar sebagai
suatu daya penggerak atau pendorong yang dimiliki oleh
manusia untuk melakukan suatu pekerjaan yaitu belajar. Seseorang yang belajar
dengan motivasi kuat akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh,
penuh gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar dengan motivasi yang lemah
akan menyebabkan sikap malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang
berhubungan dengan pelajaran.
Menurut Sardiman (2008) motivasi belajar
merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual, yang peranannya adalah
menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Sardiman
menambahkan bahwa siswa yang memiliki motivasi yang kuat, akan mempunyai banyak
energi untuk melakukan kegiatan belajar. Demikian penting motivasi belajar bagi
setiap siswa sehingga Sardiman meyakini seorang siswa yang memiliki
inteligensia yang cukup tinggi sekalipun, bisa berisiko gagal apabila
kekurangan motivasi. Sehubungan dengan hal tersebut, Sardiman mengemukakan beberapa
ciri motivasi yang muncul pada setiap orang, yaitu:
1. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu
yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).
2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk
berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah
dicapainya).
3. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah ”untuk orang
dewasa” (misalnya masalah pembangunan agama, politik, ekonomi, keadilan,
pemberantasan korupsi, penentangan terhadap setiap tindak kriminal, amoral, dan
sebagainya).
4. Lebih senang bekerja mandiri.
5. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat
mekanis, berulang-ulang begitu saja sehingga kurang kreatif).
6. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan
sesuatu).
7. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini.
8. Senang mencari dan memecahkan masalah atau soal-soal.
Melengkapi uraiannya,
Sardiman mengatakan bahwa apabila seseorang memiliki ciri-ciri seperti di atas,
berarti orang itu selalu memiliki motivasi yang cukup kuat. Ciri-ciri motivasi
seperti itu akan sangat penting dalam kegiatan belajar-mengajar.
Keterkaitan
belajar dengan motivasi, menurut Uno (2008), dapat timbul karena faktor
intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar,
harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya
penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang
menarik. Jadi, menurut Uno, motivasi belajar pada hakikatnya adalah dorongan
internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan
perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang
mendukung. Adapun indikator motivasi belajar dimaksud sebagai berikut:
1. Adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil.
2. Adanya dorongan dan
kebutuhan dalam belajar.
3. Adanya harapan
dan cita-cita masa depan.
4. Adanya penghargaan dalam belajar.
5. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar.
6. Adanya
lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan siswa dapat belajar
dengan baik.
Dari beberapa
pendapat yang telah dikemukakan di atas, tampaknya pembahasan mengenai motivasi
belajar cenderung dilekatkan dengan konteks kelas sebagai locus-nya. Oleh sebab itu, maka dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksudkan dengan motivasi belajar adalah potensi kekuatan yang tampak pada
siswa berupa drives yang
mengindikasikan adanya; keingintahuan dan keterarahan sikap dengan maksud
memenuhi kebutuhannya, untuk mencapai tujuan belajar atau perubahan tingkah
laku tertentu.
Seberapa besar potensi kekuatan yang
ditampakkan oleh perilaku siswa yang diduga memiliki motivasi belajar itu
sangat tergantung pada kuatnya dorongan (drives)
yang mewakili keingintahuan dan keterarahan sikap dalam upaya (effort) memenuhi kebutuhannya untuk
mencapai tujuan belajar. Dalam hal ini, sumber stimulus setiap siswa bisa saja
sangat bervariasi, mungkin berangkat dari motivasi intrinsik atau ekstrinsik,
atau mungkin merupakan gabungan yang saling menguatkan dari keduanya.
Demikianlah ulasan tentang pengertian
Motivasi Belajar, yang menunjukkan eratnya kaitan antara motivasi dan belajar. Semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkan informasi ini.