Komponen motivasi belajar
berikutnya adalah sikap (attitude), dan kebutuhan (need), sebagamana ulasan
berikut ini.
3. Sikap (attitude)
Menurut Allport (1935, dalam Sears et al.,
1985) sikap diartikan sebagai keadaan mental dan saraf dari kesiapan, yang
diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah
terhadap respons individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan
dengannya. Menurut Myers (1996, dalam Sobur,
2003) attitude is favourable or
unfavourable evaluate reaction to ward something or someone, exhibited in
ones’s belief, feelings or intended behavior (sikap adalah evaluasi reaksi
yang menguntungkan atau tidak menguntungkan terhadap suatu lingkungan atau
seseorang, yang ditunjukkan dalam keyakinan, perasaan atau perilaku yang
diharapkan). Menurut Jung (1921, 1971, dalam Feist & Feist, 2008)
mendefinisikan sikap sebagai suatu kecenderungan untuk bereaksi ke arah yang
khas. Jung melihat setiap orang memiliki sikap yang terintroversi sekaligus
terekstraversi, meskipun yang satu berada di alam sadar sementara yang lain
bawah sadar. Sementara menurut Sadil (1982, dalam Bakkidu, 2008)
sikap adalah suatu tingkatan afek, baik itu bersifat positif maupun negatif dalam
hubungannya dengan objek-objek psikologik. Afek positif yaitu afek senang,
dengan demikian adanya sikap menerima atau setuju, sedangkan afek negatif
adalah sebaliknya yaitu adanya sikap menolak atau tidak senang.
Menurut Rakhmat (2005) banyak definisi tentang
sikap, namun dapat disimpulkan menjadi beberapa hal, antara lain:
a. Sikap
adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam
menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku tetapi
merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap
objek sikap. Tidak ada sikap yang
berdiri sendiri. Sikap harus diikuti
oleh kata “terhadap” atau “pada” objek sikap.
b. Mempunyai
daya pendorong atau motivasi.
c. Sikap
relatif menetap.
d. Sikap
mengandung aspek evaluatif, artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak
menyenangkan.
e. Sikap
timbul dari pengalaman, tidak dibawa dari lahir tetapi merupakan hasil belajar.
Berdasarkan definisi-definisi
dan simpulan Rakhmat di atas, meskipun tampak berbeda, namun semuanya
menunjukkan karakteristik yang sama bahwa sikap (attitude) mengandung unsur:
a. Arah terhadap objek (situasi, lingkungan,
atau orang).
b. Berkaitan
dengan evaluasi (mendukung atau tidak mendukung, introversi atau ekstraversi,
setuju atau tidak setuju).
Menurut Frith, setiap pendidik mengetahui
siswa-siswa yang diberi label sebagai mempunyai suatu sikap yang tidak baik.
Sikap adalah suatu komoditas ilusi. Seorang manajer berhadapan dengan
karyawannya diperintah oleh “sikap” untuk memainkan perilaku tertentu. Dalam
bidang pendidikan, untuk menentukan kinerja belajar, dalam beberapa hal dapat
diputuskan melalui perilaku, meskipun tidak selalu. Sebagaimana dengan
karyawan, adalah penting untuk menyampaikan kepada para siswa perilaku spesifik
yang mempertunjukkan suatu sikap. Bagaimanapun sikap seorang siswa yang
mengarah ke pelajaran sangat banyak karakteristik intrinsik dan itu tidaklah
selalu dipertunjukkan melalui perilaku.
4. Kebutuhan (need)
Menurut Frith, kebutuhan-kebutuhan para siswa
secara individual dapat sangat bervariasi. Teori yang paling terkenal adalah
penggolongan kebutuhan manusia menurut Maslow, dalam teori hierarki kebutuhan
(sebagaimana telah dipaparkan di atas).
Menurut Maslow, ada lima tingkatan kebutuhan dalam hierarki ini, yakni:
a. Fisiologis
(tingkat yang paling rendah)
b. Keamanan
(tingkat yang lebih rendah)
c. Cinta
dan harta kepunyaan (kebutuhan lebih tinggi)
d. Harga
diri (kebutuhan lebih tinggi lagi), dan
e. Aktualisasi
diri (kebutuhan yang paling tinggi)
Menurut
Maslow, silakan baca kembali Teori Humanistic - kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah harus terpuaskan terlebih
dulu sebelum urutan berikutnya yang lebih tinggi. Terkait dengan dunia pendidikan,
para siswa akan tidak siap untuk belajar jika mereka belum memenuhi kebutuhan
pada tingkat yang lebih rendah (fisiologis). Menurut Atkinson (1965, dalam
Risnani, 2003), salah satu faktor penting dan menjadi daya penggerak bagi
seseorang untuk belajar adalah keinginannya untuk memenuhi kebutuhan untuk
sukses dan kebutuhannya untuk menjauhi kegagalan dalam belajar. Dengan
demikian, jika seseorang memiliki kebutuhan untuk sukses yang tinggi maka ia
akan bekerja keras dan tekun dalam belajar. Seseorang akan tekun melakukan
suatu perbuatan karena dirasakan adanya suatu kebutuhan. Menurut Partini (1984, dalam Resnani 2004) kebutuhan (need)
dapat dipandang sebagai ada kekurangan sesuatu, dan ini menuntut pemenuhan segera
agar segera pula mendapatkan keseimbangan. Situasi kekurangan ini berfungsi
sebagai suatu kekuatan, dorongan atau alasan yang menyebabkan seseorang
bertindak untuk memenuhi kebutuhan. Apabila hal ini dikaitkan dengan motivasi
belajar, maka kesuksesan dalam belajar dapat dipandang sebagai suatu kebutuhan.
Oleh karena itu, kebutuhan untuk sukses dapat pula dikatakan sebagai motivasi
belajar. Artinya, kebutuhan untuk sukses identik dengan kebutuhan berprestasi.
Menurut Elidah (1989, dalam Resnani 2004) ada siswa yang memiliki kebutuhan
berprestasi tinggi, namun ada pula yang rendah.
Siswa memiliki kebutuhan berprestasi tinggi kalau keinginan
untuk sukses benar-benar berasal dari dalam
dirinya sendiri. Siswa yang memiliki
kebutuhan berprestasi rendah cenderung takut gagal dan kurang mau menanggung
resiko dalam mencapai prestasi yang lebih tinggi. Lebih lanjut Elidah
menjelaskan bahwa ada beberapa indikator yang mencerminkan seseorang memiliki
kebutuhan untuk sukses yang tinggi, antara lain;
a. Tidak
cepat berputus asa bila menemui kesulitan dalam belajar.
b. Tidak
cepat puas atas prestasi yang telah dicapai.
c. Terbuka
dalam menerima kritikan.
d. Selalu
berkeinginan untuk meningkatkan hasil belajar.
e. Berkeinginan
untuk mencapai hasil belajar yang terbaik.
f. Tidak
cepat merasa jenuh atau bosan.
g. Sangat
berkeinginan untuk menyelidiki hal-hal baru, dan
h. Sangat
berkeinginan untuk menegakkan disiplin.