Komponen motivasi belajar berikutnya adalah kompetensi
(competence), dan motivator
eksternal (external motivator), sebagaimana ulasan berikut ini.
5. Kompetensi (competence)
Kompetensi adalah suatu motif intrinsik untuk
belajar yang sangat erat hubungannya dengan self-efficacy.
Menurut Spencer & Spencer (1993) a
competency is an underlying characteristic of an individual that is causally
related to criterion-referenced effective and/or superior performance in job or
situation. Jadi, menurut Spencer & Spencer, kompetensi dimaknai sebagai
karakteristik mendasar individu yang secara kausalitas berhubungan dengan kriteria
referensi yang efektif dan/atau kinerja yang unggul dalam pekerjaan atau berbagai
situasi). Lebih jauh Spencer & Spencer menguraikan, bahwa yang dimaksud underlying characteristic artinya kompetensi tersebut merupakan bagian yang
cukup mendalam serta bertahan lama dalam kepribadian seseorang, dan itu dapat
memprediksi perilakunya dalam berbagai situasi dan tugas-tugas pekerjaan.
Kemudian causally related itu dapat
diartikan bahwa suatu kompetensi dapat memprediksi atau menyebabkan unggulnya kinerja
seseorang. Sedangkan yang dimaksud criterion-refenced
dapat diartikan bahwa kompetensi sebenarnya memprediksi siapa yang melakukan
sesuatu dalam kualitas baik atau buruk, yang diukur melalui kriteria yang
spesifik atau standar.
Jadi kompetensi itu terkait
dengan orang, seperti apa dan apa yang dilakukannya, bukan apa yang mungkin
dilakukannya. Kompetensi selalu ditemukan pada orang-orang yang dapat diklasifikasikan
memiliki kinerja unggul atau efektif, dalam arti memiliki kemampuan menampilkan kinerjanya
diatas rata-rata. Dalam hubungannya dengan belajar, maka siswa yang “superior performance“ itu adalah siswa
yang motives, traits, self-concept,
knowledge, serta skill yang melekat padanya memang berbeda atau dapat
dibedakan dari siswa pada umumnya.
Manusia menerima pemuasan dari bekerja dengan
baik dalam berbagai hal. Sukses di dalam suatu pelajaran untuk beberapa siswa
tidaklah cukup. Untuk siswa yang kekurangan perasaan mampu (self-efficacy) dalam menghadapi
pelajaran, para guru harus tidak hanya menyediakan situasi di mana sukses
terjadi tetapi juga memberi peluang kepada siswa untuk melakukan tugas-tugas
yang menantang diri mereka untuk membuktikan diri bahwa mereka dapat
berprestasi. Dukungan eksternal, rasa
hormat dan dorongan adalah penting bagi siswa guna mencapai kompetensi itu.
Prestasi kompetensi itu sendiri menjadi
faktor motivasi intrinsik.
6. Motivator
Eksternal (external motivator)
Strategi-strategi belajar harus fleksibel,
kreatif dan diterapkan secara konstan. Penguatan adalah bentuk lain dari suatu
motivator eksternal. Nilai penguatan ada di jalan motivasi intrinsik. Para
siswa membutuhkan kepercayaan untuk membangun penguatan (reinforcement) seperti pujian dan dorongan untuk memandu mereka.
Para siswa juga memiliki penghargaan atas diri (self-esteem) yang perlu dipenuhi sejalan dengan tujuan yang sudah
mereka tetapkan. Motivator eksternal harus bisa diterima, dihargai dan dikuasai
oleh para siswa. Mereka harus merasakan bahwa perspektif mereka dihargai, dan
mereka mempunyai peluang untuk berbagi perasaan (sharing) dan berbagi tentang pemikiran-pemikiran mereka.
Kondisi-Kondisi eksternal yang mendukung kondisi-kondisi internal ini meliputi;
perlengkapan yang relevan, pilihan, kontrol, tantangan, tanggung jawab,
kompetensi, hubungan pribadi, kesenangan, dan dukungan dari orang lain dalam
wujud kepedulian, rasa hormat dan bimbingan dalam mengembangkan keterampilan.
Dengan berpijak pada komponen-komponen
motivasi belajar di atas, maka dapat dikatakan bahwa siswa yang memiliki
motivasi belajar yang tinggi akan menunjukkan keingintahuannya (curiosity) yang tinggi pula terhadap
berbagai hal terkait dengan pelajaran (atau berbagai persoalan yang terjadi,
misalnya dengan bertanya ketika dirinya merasa kurang memahami pelajaran yang
disajikan oleh guru). Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi juga
dapat dilihat dari adanya indikasi self-efficacy
yang menentukan seberapa besar keyakinannya
dapat melakukan sesuatu (apakah tampak percaya diri, ragu-ragu,
ataukah cenderung menghindar). Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi
juga dapat dilihat dari sikapnya terutama berkenaan dengan afek positif yang
menunjukkan kecenderungan senang ketika menghadapi pelajaran. Siswa yang
memiliki motivasi belajar yang tinggi juga dapat dilihat dari kebutuhan (need) siswa tersebut dalam mengejar
prestasi, apakah ia tampak aktif dalam usahanya mengejar prestasi ataukah
sebaliknya. Motivasi belajar yang tinggi juga dapat dilihat dari aspek
kompetensinya, yakni sejauhmana
penguasaan siswa terhadap pelajaran yang disajikan. Selanjutnya komponen
motivasi belajar yang berpengaruh pada siswa yang memiliki motivasi belajar
yang tinggi juga terkait dengan motivator eksternal yang meneguhkan atau
menjadi penguat (reinforcer) melalui
pujian atau dorongan yang hadir dalam proses belajar.
Berbeda halnya dengan
siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah. Siswa yang memiliki motivasi
belajar yang rendah menganggap pelajaran sebagai beban, mengerjakan tugas
sekedar mengejar nilai dan bukan untuk memperoleh keingintahuan (curiosity) yang luas terhadap ilmu
pengetahuan. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah juga kurang menunjukkan
keyakinan atas kemampuan (self-efficacy)
dalam melakukan tugas tertentu. Sikapnya (attitude)
cenderung diwarnai oleh afek negatif (tidak senang). Kebutuhan (need) untuk mengejar prestasi yang
sebaik-baiknya juga rendah, dan oleh karenanya sering kali juga memiliki
kompetensi (competence) yang rendah. Siswa-siswa yang memiliki motivasi belajar
yang rendah tidak membuat target belajar, tidak terorganisir dan cenderung
lebih banyak memperlihat sesuatu ”di luar” tugas belajar. Dorongan yang
datangnya dari luar (external motivators)
kurang ditanggapinya, yang menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki target yang
tinggi untuk mengejar kesuksesan. Sejatinya, mereka yang memiliki motivasi
belajar yang rendah cenderung memiliki curiosity
yang rendah, self-efficacy yang
rendah, sikap yang ditunjukkan melalui perilaku yang cenderung apatis,
kebutuhan yang tampak dari usahanya untuk mengejar prestasi cenderung rendah, kompetensinya
juga rendah dan oleh karenanya hasil belajarnya pun dapat diprediksikan juga
rendah.
Demikianlah ulasan tentang komponen Motivasi
Belajar. Semoga artikel ini
bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.