Posted by Laulaka on Kamis, 30 Juni 2016
Aku tak ingin bertanya
tentang hari esok, karena itu bukan milikku
Aku tak ingin menangisi
masa laluku, karena aku sadar, itu bentuk tulisan lurus tanganMu
Aku tak ingin pasrah,
karena aku tahu, itu tidak menjawab kegelisahanku
Aku tak ingin mengejar asa,
karena aku sadar dayaku dibatasi oleh takdirMu
Aku memilih diam menunggu
mimpi
Membiarkan sisa-sisa
kesabaran berjalan di depan langkahku
Aku memilih memejamkan mata
menunggu secercah cahaya
Berharap ada mantra
penggugah kesadaran dari tidur panjangku
Terkadang aku merasa sangat
lelah, sekuat itu pula aku harus tabah
Terkadang aku ragu, sebesar
itu pula aku harus membangun rasa percaya diriku
Terkadang aku ingin lantang
bersuara, sekuat itu pula aku tutup mulutku
Terkadang aku merasa layak
tersenyum, sekuat itu pula batinku menunjuk jejak-jejak kegagalanku
Lalu.. aku bertanya pada
samudera raya, apa yang “mungkin” aku lakukan?
Tak ada angin sepoi atau bisik
suara badai penanda kesetujuan alam
Di hamparan
langit.... aku termenung.. dan kujatuhkan pilihanku
Aku tidak
boleh bersenandung melumuri mulutku dengan madu
Aku tidak boleh bersumpah
serapah mencari sasaran amarah
Aku tidak boleh berpasrah
diri menyalahkan penguasa jagat raya ini
Apa yang mungkin kulakukan adalah.. melangkah memasuki ruang batinku, berkontemplasi…
Seraya mengharapkan kejelasan makna
satu kata teragung, yaitu….. CINTA !!!