Kadangkala
ditemukan dalam sebuah proposal penelitian baik itu skripsi, tesis, atau bahkan disertasi, pada bagian
yang mengupas tentang Latar Belakang Masalah – biasanya pada Bab 1, si peneliti mengutip definisi
dari variabel-variabel
yang ditelitinya. Hal yang
demikian sungguh-sungguh “salah tempat”, karena pengutipan definisi variabel
penelitian dipaparkan secara khusus pada bagian Tinjauan Pustaka. Tentu saja, ada
maksud-maksud tertentu mengapa disajikan pada Tinjauan Pustaka, tentang hal ini akan kita bahas dilain
kesempatan.
Pada bagian Latar Belakang Masalah, tugas Anda sebagai peneliti adalah
memaparkan secara sistematis arti penting dari variabel terikat (dependent variable), serta
bagaimana kausalitasnya dikaitkan dengan variabel bebas (independent variable) yang telah Anda duga
sebagai penyebabnya. Jika variabelnya banyak, maka tentu akan banyak pula jalur penjelasan Anda tentang bagaimana kaitan di antara variabel-variabel tersebut. Kekuatan argumentasi Anda harus ditopang oleh pendapat para ahli
atau hasil-hasil penelitian terdahulu dalam topik yang sama, serta hasil temuan
empiris Anda ketika melakukan penelitian pendahuluan. Oleh sebab itu, dipandang
penting melakukan penelitian pendahuluan, untuk memastikan bahwa masalah yang
Anda teliti adalah masalah yang benar-benar ada, (bukan diada-adakan), yang
ditemukan karena adanya kesenjangan antara das
sollen dan das sein, antara apa yang "seharusnya" dengan apa yang "senyatanya".
Apa yang diterangkan, tentu saja tergantung pada jenis permasalahannya. Jika peneliti ingin "mengetahui status sesuatu" (apa, bagaimana, sejauh mana, dan sebagainya), maka peneliti menitikberatkan pada pertanyaan yang mengarahkan untuk menerangkan suatu gejala atau peristiwa tertentu. Misalnya Anda ingin mengetahui bagaimana pendapat para guru tentang penerapan Kurikulum 2013, bagaimana pandangan para orangtua siswa terhadap penentuan kelulusan melalui UNAS, berapa jumlah penduduk usia sekolah di daerah tertentu, dan sebagainya. Dalam hal ini Anda menerangkan secara runtut alasan-alasan mengapa menilai penelitian itu penting. Penelitian yang bertujuan mengetahui status sesuatu seperti ini disebut penelitian yang bersifat deskriptif, karena Anda hanya ingin menjelaskan atau menerangkan saja.
Jika peneliti ingin "membandingkan" antara dua fenomena atau lebih, berarti ini termasuk problem komparasi, maka peneliti menitikberatkan pada usaha mencari persamaan dan perbedaan fenomena tersebut, selanjutnya mencari arti atau manfaat dari adanya persamaan dan perbedaan yang ada. Walaupun demikian, problem komparasi selalu berujung pada meneliti sisi perbedaan dari fenomena yang dibandingkan. Terakhir, jika peneliti ingin mencari kejelasan hubungan antara dua fenomena (problem korelasional), apakah dalam hubungan sejajar ataukah hubungan sebab-akibat, maka sebagaimana penulis paparkan di atas, Anda harus mencari dukungan teori atau penelitian pendahuluan sebagai penopang argumentasi Anda dalam menjelaskan kausalitas yang terjadi di antara variabel-variabel penelitian Anda.
Demikianlah ulasan singkat tentang boleh tidaknya mengutip definisi variabel penelitian pada latar belakang masalah, yang penulis perjelas lagi dengan apa yang seharusnya dikerjakan Anda sebagai peneliti jika dikaitkan dengan jenis-jenis permasalahan yang Anda hadapi, "mungkin" ingin mendeskripsikan, membandingkan, atau mencari hubungan di antara dua fenomena atau lebih.
Sekian, semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya... tetap semangat !!!