Posted by Laulaka on Sabtu, 06 Agustus 2016
Gardner kemudian melakukan identifikasi
terhadap kecerdasan manusia, di mana hal ini sebenarnya berangkat dari
ketidaksetujuan Gardner terhadap closing test (mengukur kecerdasan dalam
arti sempit) yang hanya meletakkan dasar kecerdasan seseorang pada IQ (Intelligence
Quotient), pada kemampuan berbahasa dan logika semata tanpa atau kurang
mempertimbangkan kemampuan-kemampuan lain. Bencana lainnya, menurut Gardner
adalah penerapan tes ketidakmampuan (disability test) yakni tes
yang hanya berpusat pada pencarian kelemahan seseorang. Gardner mengkritik
kevalidan tes IQ dan labelisasi disability test, hingga kemudian ia
mencetuskan teorinya yang disebut multiple intelligences. Teori ini meredefenisi kecerdasan, menurutnya kecerdasan bukanlah
dilihat dari hasil tes tetapi diukur dari sejauh mana seseorang atau bangsa
menciptakan karya-karya baru bagi kemanusiaan dan seberapa mampu mereka
menemukan pemecahan persoalan mereka sendiri. Gardner mendefinisikan kecerdasan (dalam Razmjoo, 2008) sebagai the ability to solve problems or to create
fashion products that are valued within one or more cultural settings
(sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk menciptakan
produk-produk mode yang bernilai dalam satu atau beberapa latar budaya).
Dalam usahanya mengidentifikasi kecerdasan, menurut Azwar (2006), Gardner menggunakan beberapa kriteria, sebagai
berikut:
1. Pengetahuan mengenai perkembangan individu
yang normal dan yang superior.
2. Informasi
mengenai kerusakan otak.
3. Studi mengenai orang-orang eksepsional
seperti individu yang luar biasa pintar, juga individu-individu yang tergolong idiot
savant, serta orang-orang autistik.
(Idiot savant
adalah kaum ilmuwan atau cerdik pandai yang bersifat idiot. Ber-IQ tinggi,
berbakat khusus luar biasa tetapi menderita defisiensi mental sehingga
perilakunya aneh-aneh, kejam-sadistis atau sangat abnormal; dalam Kartono, 1989).
4. Data
psikometrik, dan
5. Studi
pelatihan psikologis.
Gardner juga menyatakan bahwa berbagai
kecerdasan yang telah diidentifikasikannya bersifat universal sekalipun secara
budaya tampak berbeda. Selanjutnya Gardner dan Hatch (1989, dalam Slavin, 2008)
menggambarkan 8 macam kecerdasan (multiple intelligences), sebagaimana
tampak pada tabel berikut ini.
Dengan “ditemukan” bermacam-macam
kecerdasan sebagaimana telah disajikan, maka guru hendaknya menghindari untuk
berpikir bahwa dalam proses belajar siswa, ada siswa yang cerdas dan ada pula
siswa yang tidak cerdas, sebab ternyata ada banyak ragam kecerdasan (tidak
dikerucutkan pada ranah kognitif saja) sehingga setiap siswa “boleh jadi”
menonjol dalam satu atau beberapa macam kecerdasan itu. Tentu saja, apabila
guru menghendaki semua siswa cerdas, maka guru juga harus menggunakan rentang
kegiatan yang lebih luas, sarana yang memadai, yang memungkinkan semua siswa
menampilkan kecerdasannya.
Demikianlah
ulasan tentang Proses Belajar Siswa: Pengembangan Potensi Diri, semoga bermanfaat bagi Anda yang
membutuhkannya.