Posted by Laulaka on Senin, 08 Agustus 2016
Pembaca yang penulis muliakan, jika
pada artikel-artikel terdahulu penulis sajikan tentang Proses Belajar Siswa serta bagaimana kaitan dengan Pengembangan
Potensi Diri bagian 1, 2, dan 3, dengan mengulas konsep inteligensi,
maka pada kesempatan kali ini penulis sajikan bahasan tentang bagaimana “Peran
Guru” dalam proses belajar-mengajar.
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu
komponen penting yang sangat mempengaruhi proses pembelajaran adalah komponen
guru. Guru diasumsikan sebagai pemilik sejumlah sifat-sifat manusia yang baik. Oleh
sebab itu, di kalangan masyarakat Jawa khususnya, guru merupakan akronim
sekaligus menggambarkan sosok manusia yang berbudi luhur, yaitu sosok manusia yang
“digugu dan ditiru” atau sosok yang dianggap pantas untuk dipatuhi dan
diteladani. Borich (1996, dalam Mudjiman, 2008) menyatakan bahwa seorang guru
yang baik perlu memiliki; “King Solomon’s wisdom, Sigmund Freud’s insight,
Albert Einstein’s knowledge, and Florence Nightingale’s dedication.”
Tampak mirip dengan gambaran “guru” di kalangan masyarakat Jawa, bahwa guru
adalah sosok yang seharusnya berhati bijak bagaikan Raja Solomon, sosok yang seharusnya
memiliki “pemahaman yang mendalam” bagaikan konsep insight yang
dikemukakan Freud, sosok yang berpengetahuan luas bagaikan Einstein, serta
memiliki dedikasi yang tinggi bagaikan Nightingale. Meskipun ciri-ciri tersebut
pada akhirnya menyajikan indikator keberhasilan guru menjadi kabur, karena
demikian banyak aspek dalam ketidaksempurnaannya sebagai manusia, namun yang
pasti, ketika menjalankan tugas-tugasnya, guru memang dituntut memiliki banyak
kemampuan berkenaan dengan aktivitas dalam merencanakan, melaksanakan, serta
mengevaluasi proses pembelajaran. Aktivitas yang terkait dengan tugas-tugas tersebut
sungguh tidak sederhana, sebab selain menjalankan tugas sebagai “pengajar” yang
melakukan “transfer of knowledge,” pada saat yang sama, guru juga
melakukan “transfer of values,” yaitu mengambil posisi menunjukkan ke mana
arah - melalui nilai-nilai kehidupan yang baik dan benar - kepada para
siswanya. Karena tugas itu bukanlah tugas yang sederhana, maka tentu tidak
semua orang bisa menjadi guru. Apabila “transfer of knowledge”
bermodalkan informasi atau pengetahuan yang siap disajikan guru, maka “transfer
of values” bermodalkan keterpanggilan nurani untuk “mengubah
perilaku” siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Sebagai contoh, seorang
guru berupaya masuk kelas tepat waktu, sebab hal itu bermuatan keteladanan
dalam menghargai waktu dan kedisiplinan. Seorang guru juga harus sabar menunggu
siswanya berproses dalam memahami pelajaran tertentu, sebab meskipun kendali
belajar ada di tangan guru, tetapi kecepatan belajar sesuai tingkat
penguasaannya berada pada siswa. Singkatnya, transfer of values jauh lebih sulit dan
lebih luas kriterianya daripada sekedar transfer
of knowledge.
Ketika hubungan guru-siswa dikaitkan
dengan sekolah, bagaimanapun juga sekolah harus dipandang sebagai “miniatur
masyarakat” dan sudah seharusnya guru memikul kompetensi yang luas sebagaimana
gambaran di atas. Wujud kompetensi selalu terkait dengan konteksnya. Artinya di
hadapan siswa, seorang guru memiliki banyak peran, antara lain sebagai
pembimbing; yang membimbing siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan
tugas-tugas perkembangannya. Dalam peran sebagai pelatih, seorang guru berperan
melatih keterampilan siswa, baik yang berkaitan dengan keterampilan intelektual
maupun keterampilan motorik. Dalam peran sebagai motivator, seorang guru
berperan memotivasi siswa agar dapat memecahkan beragam problem kehidupan yang
sedang atau kelak dihadapi siswa, membentuk siswa memiliki kemampuan inovatif
dan kreatif, dan sebagainya. Sehubungan dengan relasi guru-siswa yang dibangun
seperti itu, maka setiap kegiatan guru didudukkan dan dibenarkan semata-mata
demi kepentingan siswanya. Dengan demikian setiap guru perlu memiliki kemampuan
khusus, kemampuan yang tidak melekat atau tidak dimiliki oleh orang-orang yang berprofesi
bukan sebagai seorang guru. Kemampuan dimaksud merupakan konsekuensi dari
tanggung jawab yang diemban guru yaitu membantu orang lain (siswa) dalam
belajar. Dalam bahasa yang sama Cooper (1990, dalam Sanjaya, 2008) mengatakan “A
teacher is person charged with the responsibility of helping others to learn
and to behave in new different ways.”
Demikianlah ulasan tentang Peran Guru, yang
penulis sajikan sebagai pengantar saja. Silakan pembaca mengikuti artikel
selanjutnya, dalam ulasan yang relatif lebih terperinci. Semoga ulasan ini bermanfaat
bagi Anda yang membutuhkannya.