Pada hakekatnya, bahasa merupakan salah satu kemampuan
terpenting manusia yang memungkinkan manusia unggul dari makhluk-makhluk
lainnya. Menurut Lerner (1988; dalam Abdurrahman, 2003) bahasa merupakan suatu sistem
komunikasi yang terintegrasi, mencakup bahasa ujaran, membaca, dan menulis.
Tentu saja, dysphasia sangat terkait
dengan bahasa ujaran, yaitu suatu ekspresi bahasa dalam bentuk wicara. Wicara
merupakan suatu bentuk penyampaian bahasa dengan menggunakan organ wicara. Ada
orang memiliki kemampuan berbahasa yang baik tetapi ada gangguan pada organ
wicaranya sehingga memiliki kesulitan dalam wicara. Ada pula orang yang organ
wicaranya baik tetapi memiliki kesulitan dalam berbahasa; dan ada pula orang
yang di samping memiliki kesulitan dalam bahasa juga memiliki kesulitan dalam
wicara.
Bahasa memiliki cakupan yang luas (bahasa isyarat,
kode morse, bahasa tulis, bahasa ujaran), sedangkan wicara hanya merupakan
makna verbal dari penyampaian bahasa. Menurut ASLHA (American Speech-Language-Hearning Association), ada tiga komponen
wicara, yaitu (1) artikulasi, (2) suara, dan (3) kelancaran. Komponen “artikulasi”
berkaitan dengan kejelasan pengujaran kata; komponen “suara” berkaitan dengan
nada; dan komponen “kelancaran” berkaitan dengan kecepatan wicara.
Ekspresi bahasa memiliki enam komponen, yaitu:
a. Fonem, merupakan unit terkecil dari
bunyi ujaran yang dapat membedakan arti. Misalnya, fonem l dan fonem r, pada
kata “lagu” dan “ragu”.
b. Morfem, merupakan unit terkecil dari
bahasa yang mengandung makna. Misalnya, kata “unnatural” yang terdiri dari dua morfem, “un” dan “natural”. Dalam
Bahasa Inggris, “un, re, de”
merupakan prefix atau awalan,
merupakan morfem terikat, sedangkan “natural”
merupakan morfem bebas.
c. Sintaksis, berkenaan dengan tata
bahasa, yaitu bagaimana kata-kata disusun untuk membentuk kalimat. Sintaksis
membahas tentang (1) frasa, yaitu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau
lebih yang membentuk satu kesatuan, misalnya “rumah makan”, dan sebagainya; (2)
klausa, yaitu konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang
mengandung hubungan fungsional “subjek, predikat, objek, keterangan”, misalnya “ibu
memasak di dapur”, dan sebagainya; dan (3) kalimat, dapat dikatakan sempurna
apabila dalam rentetan arus ujaran, sudah tercakup pertimbangan struktur
segmental (subjek, predikat, objek) dan struktur suprasegmental (ada intonasi).
Artinya, ada kalimat yang merupakan gabungan kata dan intonasi, misalnya “pergi”,
“maling”, dan sebagainya; dan ada pula kalimat yang merupakan gabungan frasa
dan intonasi, misalnya “Bapak menulis surat”.
d. Semantik, yaitu cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode,
atau jenis representasi lain.
e. Prosodi (intonasi atau nada bicara),
sering disebut pula melodi wicara. Menurut Lovitt (1989; dalam Abdurrahman,
2003) prosodi memiliki fungsi yang sama dengan penggunaan tanda baca dalam
bahasa tulis.
f. Pragmatik, berkenaan dengan cara
menggunakan bahasa dalam situasi sosial yang tepat. Misalnya, berbicara dengan orang
tua, atau atasan, kita bedakan dengan orang yang usianya lebih muda atau dengan
bawahan.
Lalu bagaimana perkembangan bahasa pada anak-anak yang
terjadi secara wajar (normal)?
Menurut
Lovitt (1989; dalam Abdurrahman, 2003) ada tiga komponen bahasa, yaitu (1) isi;
(2) bentuk; dan (3) penggunaan bahasa. Perkembangan bahasa terjadi secara
berkesinambungan, sejak bayi hingga mampu mengintegrasikan ketiga komponen
tersebut. Pada awalnya bayi
mempelajari objek yang merupakan bagian dari gerakan-gerakannya sendiri dan
benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang ada di sekitarnya. Bayi lalu
mengeluarkan bunyi-bunyi, yang kemudian seiring usianya, sekitar dua tahun,
bunyi-bunyi tersebut dirakit menjadi kata-kata. Namun pada anak-anak
berkesulitan belajar bahasa (dysphasia)
tentu tidak mengikuti alur perkembangan seperti itu.
Apa itu dysphasia?
Dysphasia adalah jenis dari aphasia yang lebih ringan. Aphasia
merupakan suatu keadaan di mana individu “kehilangan
kemampuan berbahasa”. Meski
dysphasia lebih ringan dari aphasia, dysphasia tetap saja mengganggu individu dalam berkomunikasi.
Dysphasia disebabkan oleh kerusakan bagian otak
sebelah kiri, hemispheres, yang
bertanggung jawab untuk bahasa dan komunikasi. Biasanya dikarenakan serangan
stroke, terjadi ketika suplai darah ke otak menjadi terganggu. Infeksi dan
peradangan otak, cedera kepala atau tumor di otak juga dapat merusak otak, yang
pada gilirannya dapat menyebabkan individu mengalami aphasia.
Di atas sudah diungkapkan bahwa ada tiga komponen
wicara, yakni artikulasi, suara, dan kelancaran. Jika terdapat kerusakan organ
wicara yang terkait dengan salah satu atau lebih komponen tersebut, tentu dapat
menimbulkan kesulitan wicara. Meskipun demikian, anak yang mengalami kesulitan
wicara, tidak selalu berarti mengalami kesulitan bahasa.
Seperti telah dikemukakan, ada
enam komponen bahasa, yaitu: (1) fonem; (2) morfem; (3) sintaksis; (4)
semantik; (5) prosodi; dan (6) pragmatik. Adanya gangguan dari salah satu atau
lebih komponen-komponen tersebut dapat menyebabkan teradinya kesulitan belajar bahasa. Menurut Lovitt (1989; dalam Abdurrahman, 2003),
beberapa faktor penyebab kesulitan belajar bahasa, yaitu:
a. Kekurangan
Kognitif
Ada bermacam-macam jenis kekurangan kognitif, yaitu:
(1) Kesulitan dalam memahami dan membedakan makna bunyi wicara; (2) Kesulitan dalam membentuk konsep dan mengembangkannya ke
dalam unit-unit semantik; (3) Kesulitan dalam mengklasifikasikan
kata; (4) Kesulitan mencari dan
menetapkan kata yang ada hubungan dengan kata lain (hubungan semantik); (5) Kesulitan dalam memahami saling keterkaitan antara masalah, proses dan
aplikasinya; (6) kesulitan dalam mengenali perubahan
makna atau transformasional semantik, misalnya
kata “lembut” mungkin menjelaskan tentang tekstrur, warna, volume suara, atau
mungkin tentang gerakan; dan (7) menangkap makna secara penuh (implikasi
semantik).
b. Kekurangan
dalam Memori
Hasil-hasil
penelitian menunjukkan bahwa anak berkesulitan belajar seringkali
memperlihatkan kekurangan dalam memori auditoris. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam memproduksi bahasa. Kurang mampu dalam mengulang urutan fonem, mengingat kembali kata-kata,
mengingat simbol, dan memahami hubungan sebab akibat.
c. Kekurangan
dalam Kemampuan Menilai
Anak
berkesulitan belajar seringkali kesulitan
dalam menilai kemantapan arti suatu kata. Akibatnya,
anak mungkin akan menerima saja kalimat atau kata yang salah. Sebagai contoh,
mungkin anak akan membenarkan saja kalimat “ibu memasukkan pakaian pada
lemari”. Pada taraf implikasi semantik, anak berkesulitan belajar sering tidak
mampu mengevaluasi hubungan sebab-akibat. Akibatnya, mereka sering menerima
saja kalimat seperti “pakaian itu terbuat dari sangat indah”. Mereka sulit mengenal kesalahan-kesalahan sintaksis, dan setelah mereka tahu
kesalahan-kesalahan itu pun, mereka
juga tidak dapat memperbaikinya.
d. Kekurangan
dalam Kemampuan Produksi Bahasa
Produksi
bahasa dipermudah oleh kemampuan mengingat, perilaku afektif dan psikomotorik
yang baik. Karena anak berkesulitan belajar umumnya memiliki taraf perkembangan
berbagai kemampuan tersebut secara kurang memadai, maka mereka mengalami
kesulitan dalam memproduksi bahasa. Ada dua jenis kemampuan produksi bahasa,
kemampuan produksi konvergen dan divergen. Kemampuan produksi konvergen terkait dengan kemampuan menggambarkan kesimpulan logis dari informasi verbal dan
memproduksi jawaban semantik yang khas. Kemampuan produksi devergen berkenaan
dengan kelancaran, keluwesan, keaslian dan keluasan bahasa yang diproduksi.
Kemampuan produksi konvergen dapat dilihat dari kemampuan anak dalam hal: (1)
mengucapkan kata-kata dan konsep-konsep; (2) melengkapi asosiasi verbal dan
analogi; (3) merumuskan gagasan dan problema-problema verbal; (4) merumuskan
kembali konsep dan ide; dan (5) merumuskan berbagai alternatif pemecahan
masalah. Anak-anak berkesulitan belajar, kesulitan dalam produksi konvergen
maupun produksi divergen.
e. Kekurangan
dalam Pragmatik
Anak
berkesulitan belajar umumnya kesulitan dalam
mengajukan pertanyaan, memberikan reaksi yang tepat terhadap berbagai pesan,
menjaga atau mempertahankan percakapan, dan mengajukan sanggahan berdasarkan
argumentasi yang kuat. Mereka kurang
persuasif dalam percakapan, serta kurang
mampu mengelola dialog
dengan orang lain.
Dapat disimpulkan bahwa dysphasia adalah istilah yang
menggambarkan keterbatasan kemampuan dalam menggunakan simbol linguistik untuk berkomunikasi secara verbal. Gangguan
pada anak-anak
yang terjadi pada masa perkembangan ketika anak belajar bicara disebut dysphasia perkembangan. Adapun bantuan yang dapat diberikan
kepada anak-anak dysphasia, antara lain:
a. Meluruskan
bicara, tidak membiarkan salah ucap.
b. Memperhatikan
mimik wajah dan bibir saat bicara.
c. Mengajarkan
keterampilan lidah dan
mulut.
d. Memberikan
dorongan.
Pemberian latihan pada anak yang mengalami dysphasia, dapat dilakukan antara lain:
a. Menerangkan
arti setiap kata kepada anak.
b. Memandang
anak saat bicara.
c. Berbicara
dengan pelan-pelan dan singkat.
d. Memberikan
respons positif pada setiap hal yang diutarakan atau
dijelaskannya.
Demikianlah ulasan tentang kesulitan belajar bahasa (dysphasia), semoga ulasan singkat ini
dapat bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.