Posted by Laulaka on Jumat, 05 Agustus 2016
Pembelajaran yang
seringkali juga disebut dengan belajar mengajar, menurut Widoyoko (2008)
sebagai padanan dari istilah “instruction”, terdiri dari dua kata
belajar dan mengajar (teaching and learning). Menurut UU RI No. 20 Tahun
2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran didefinisikan sebagai proses interaksi
peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Menurut Sanjaya (2008), proses pembelajaran merupakan suatu sistem, demikian
banyak komponen yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan, sehingga tidak
mungkin upaya meningkatkan kualitas itu dilakukan dengan memperbaiki setiap
komponen secara serempak.
Salah satu bahasan
penting dalam proses pembelajaran adalah hubungan antara guru dan siswa, antara
pendidik dan peserta didik. Hubungan tersebut penting dan bersifat menentukan,
sebab untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal, banyak dipengaruhi oleh
kualitas hubungan dalam proses pembelajaran, di mana hadir siswa di satu pihak,
dan guru sebagai di pihak yang lain. Secara singkat dapat dikatakan bahwa
hubungan guru dan siswa dalam proses pembelajaran seyogyanya dilihat sebagai
mitra yang secara bersama-sama membangun pengetahuan. Dalam hal ini, siswa
hendaknya dipandang sebagai manusia yang masih dalam taraf potensial, manusia
yang belum sampai pada “taraf maksimal.” Oleh sebab itu menurut Driyarkara
(1980, dalam Ahmadi & Uhbiyati, 2001) mendidik adalah perbuatan
fundamental, karena mendidik adalah “memanusiakan manusia.” Mendidik itu adalah
proses hominisasi sekaligus humanisasi, yaitu perbuatan yang menyebabkan
manusia menjadi manusia. Driyarkara menambahkan, bahwa yang dimaksud proses
hominisasi artinya penjadian manusia, yaitu manusia dari taraf potensial ke
taraf maksimal (telah mampu berbuat sebagai selayaknya manusia) sedangkan
proses humanisasi menunjukkan perkembangan yang lebih tinggi lagi (humanismus
berarti perkembangan kebudayaan yang lebih tinggi).
Kualitas hubungan
yang baik dalam konteks pembelajaran, tidak terlepas dari bagaimana komunikasi dibangun.
Bahkan antropolog terkenal Montagu (1967, dalam Rakhmat, 2005) mengatakan, “the
most important agency through which the child learns to be human is
communication, verbal also nonverbal.” (perantara yang terpenting di mana
anak belajar menjadi manusia adalah komunikasi, baik itu verbal maupun
nonverbal).
Komunikasi yang
sesuai dalam hubungan guru dan siswa adalah komunikasi persuasif, yaitu
bagaimana guru mempengaruhi dan mengendalikan perilaku siswa melalui pendekatan
psikologis. Hal ini dapat dilakukan guru dengan cara menanyakan keadaan siswa,
atau sebaliknya siswa yang mengajukan pertanyaan terkait dengan berbagai
permasalahan yang dihadapinya. Dengan komunikasi seperti itu, maka bukan saja
aspek kognitif (yang diukur melalui nilai tiap-tiap mata pelajaran) yang
dijadikan sebagai indikator keberhasilan studi siswa, namun dengan sendirinya
aspek afektif juga dikembangkan. Adalah salah apabila beranggapan bahwa jika aspek
kognitif telah dikembangkan secara benar maka aspek afektif akan ikut berkembang
secara positif. Penelitian Jacob (1957, dikutip Krathwol & Bloom, dalam
Zubaedi, 2007) menyatakan; “The evidence
suggest that affective behaviour develops when appropriate learning experiences
are provided for students much the same as cognitive behaviours develop from
appropriate learning experiences.” Jadi, dari fakta-fakta yang ada
menunjukkan bahwa perilaku afektif berkembang ketika pengalaman pembelajaran yang
tepat diberikan bagi siswa sama banyaknya dengan perkembangan perilaku kognitif
yang mendapatkan pengalaman pembelajaran yang tepat.
Walaupun relatif
masih muda, konsep belajar konstruktivisme yang beranggapan bahwa pengetahuan
manusia merupakan bentukan (konstruksi) dari manusia yang mengetahui sesuatu,
sebagaimana disinggung pada artikel terdahulu (Teori Konstruktivisme) kini
semakin mencuri perhatian para ahli. Konstruktivisme memang tengah mempengaruhi
banyak bidang studi, ini menunjukkan aliran filsafat ini cukup banyak
dipelajari, diteliti, dan diperbincangkan.
Demikianlah ulasan
singkat tentang hubungan antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran,
semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.