Arti
operant yang digagas oleh Burrhus Frederic
Skinner (1904-1990) berarti operasi (operation)
yang pengaruhnya mengakibatkan organisme melakukan suatu perbuatan pada
lingkungannya (Hardy & Heyes, 1985; Reber, 1988, dalam Sobur, 2003). Skinner
percaya bahwa perilaku manusia selalu dikendalikan oleh faktor luar (faktor
lingkungan dan stimulus), sehingga menurut Skinner pemberian positive reinforcement mampu
“menumbuhkan” perilaku, sebaliknya dengan pemberian negative reinforcement suatu perilaku akan dihambat. Sehubungan
dengan hal ini, perlu dipertegas bahwa:
a. Reinforcement
merupakan konsekuensi
yang menyebabkan suatu perilaku terjadi dengan frekuensi yang lebih besar.
b. Punishment adalah suatu konsekuensi yang
menyebabkan suatu perilaku terjadi dengan frekuensi kurang.
c. Extinction adalah ketika sebuah
perilaku sebelumnya diberi penguatan kemudian tidak lagi diperkuat (baik positive reinforcement maupun negative reinforcement) maka akan mengarah
pada penurunan respons.
Reinforcement
dan punishment merupakan alat utama
dari operant conditioning. Keduanya
menciptakan lagi empat konsekuensi dasar, yaitu; positive reinforcement, negative
reinforcement, positive punishment, dan negative
punishment, dengan penambahan prosedur kelima yaitu extinction, sebagaimana telah disingung di atas, yakni:
a. Positive
reinforcement (reinforcement) terjadi
ketika sebuah perilaku (respons) diikuti
oleh stimulus (biasanya dilihat sebagai menyenangkan) yang meningkatkan
frekuensi perilaku itu.
b. Negative reinforcement (escape) terjadi
ketika sebuah perilaku (respon) diikuti dengan penghapusan stimulus (biasanya
dilihat sebagai yang tidak menyenangkan) sehingga meningkatkan frekuensi
perilaku itu.
c. Punishment positive (punishment)
terjadi ketika sebuah perilaku (respons) diikuti dengan stimulus, seperti
memperkenalkan kejutan atau suara keras, yang mengakibatkan penurunan perilaku
itu.
d. Punishment negative (penalty)
terjadi ketika sebuah perilaku (respons) diikuti dengan penghapusan stimulus.
Seperti
Pavlovian conditioning, Skinner juga
memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara stimulus dan respons, dan
membedakan perilaku atas:
a. Perilaku yang alami (innate behavior), yang kemudian disebut juga sebagai respondent behavior (Hergenhahn, 1976,
dalam Walgito, 2002), yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas,
perilaku yang bersifat refleksif.
b. Perilaku operant
(operant behavior), yaitu perilaku
yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak diketahui, tetapi semata-mata
ditimbulkan oleh organism itu sendiri. Perilaku operant belum tentu didahului oleh stimulus dari luar.
Dalam
eksperimennya, Skinner menggunakan tikus sebagai binatang percobaan. Menurut
Skinner, dalam kaitannya dengan teorinya (operant
conditioning) ada dua prinsip umum, yaitu:
a. Setiap respons yang diikuti oleh reward, bekerja sebagai reinforcement stimuli, akan cenderung
diulangi.
b. Reward,
atau reinforcement stimuli akan
meningkatkan kecepatan (rate)
terjadinya respons.
Sebagai
teori belajar yang sangat diperhitungkan, operant
conditioning ini juga mengajukan metode shaping,
yang dipercaya Skinner dapat membentuk perilaku tertentu melalui serangkaian
perilaku yang kecil-kecil atau yang lebih sederhana. Mengambil contoh sekolah
sebagai locus pembelajaran, maka
metode shaping yang dapat diterapkan
terhadap perilaku siswa dapat diawali dengan melalukan analisis terhadap perilaku
baru yang ingin dibentuk. Selanjutnya menganalisis perilaku yang ingin dibentuk
itu dengan “memecahnya” menjadi beberapa perilaku yang lebih sederhana (analisis
pula kondisi, kemampuan dan reward yang
digunakan). Ketika “pecahan” perilaku dengan memberikan reward sudah terbentuk, bergeser lagi ke “pecahan” perilaku
berikutnya, demikian seterusnya hingga perilaku yang diinginkan terbentuk.
Sebagaimana
telah dipaparkan di bagian atas, bahwa terdapat tiga teori belajar yang paling
menonjol (classical conditioning,
connectionism, dan operant conditioning). Berpijak pada temuan-temuan
berdasarkan eksperimen pada ketiga teori itu, tampaknya telah mengilhami serta
mendorong minat para peneliti untuk melakukan eksperimen-eksperimen yang
terkait dengan belajar, sehingga melahirkan beberapa teori belajar lainnya, dua
diantaranya yang sangat terkenal adalah Teori Psikologi Gestalt dan Teori
Konstruktivisme, sebagaimana artikel yang akan disajikan berikut ini.
Demikianlah
ulasan Teori Operant Conditioning pada
kesempatan kali ini, semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.