Posted by Laulaka on Jumat, 15 Juli 2016
Teori belajar yang pertama, yang penulis sajikan adalah
teori classical conditioning. Teori ini,
berkembang atas eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Petrovitch Pavlov
(1849-1936) yang ketika itu menggunakan anjing sebagai binatang percobaannya.
Pemberian nama ”classical”
semata-mata untuk menghargai kontribusi keilmuan Pavlov terhadap psikologi,
terutama yang beraliran behaviorisme, karena Pavlov dianggap sebagai psikolog
yang mengawali dalam melakukan eksperimen dibidang conditioning (upaya pembiasaan) serta untuk membedakan dari teori conditioning lainnya (Gleitman, 1986,
dalam Syah, 2003). Eksperimen intensif Pavlov terkait dengan kelenjar ludah
dimulainya sejak tahun 1902, dan atas sumbangan keilmuwannya itu, pada tahun
1904 anak pendeta ini kemudian menerima hadiah nobel dalam bidang psikologi.
Eksperimen Pavlov banyak berpengaruh pada masalah-masalah
belajar, misalnya pada pembentukan kebiasaan (habit formation). Dasar pandangannya adalah kesadaran merupakan hal
yang dubious, sesuatu yang tidak
dapat diobservasi secara nyata. Pada awal penelitiannya,
Pavlov bermaksud meneliti proses salivasi, yaitu keluarnya air liur pada
binatang percobaan itu. Secara tidak sengaja, Pavlov menemukan bahwa ternyata
salivasi tidak saja terjadi pada daging atau stimulus tak bersyarat (unconditioned
stimulus), tetapi juga pada stimulus netral yang dikaitkan dengan daging (conditioned
stimulus), misalnya suara bel. Dari hasil penelitian ini kemudian diketahui
bahwa pada prinsipnya, stimuli yang netral atau tidak menimbulkan respons
individu, dengan perlakuan sedemikian rupa dapat menimbulkan respons individu,
apabila hal itu dilakukan melalui suatu proses pembiasaan (conditioning).
Hubungan-hubungan Conditioned Stimulus (CS), Unconditioned Stimulus (US), Conditioned Response (CR), dan Unconditioned Response (UR) dalam
percobaannya, terjadi bahwa ketika pertama kali bel dibunyikan (CS) anjing
tidak berespon. Kemudian, bel
ditambahkan dengan penyajian makanan (US) secara berulang-ulang, sehingga manakala
terdengar bel (CS) anjing berespon dan air liur keluar (CR) (dalam Walgito,
2002; Suryabrata, 2004). Jadi, bel saja
(CS) bisa menghasilkan respon yang dipelajari (CR), bila bel (CS) dan makanan
(US) dihadirkan secara bersama-sama dan berulang-ulang. Demikianlah satu
rangsang berkondisi dapat dihubungkan dengan rangsang tak berkondisi lainnya
sehingga binatang percobaan (anjing) tetap dapat mempertahankan refleks
berkondisi walaupun rangsang tak berkondisi tidak lagi diberikan. Tentu saja
tidak adanya rangsang tak berkondisi hanya bisa dilakukan pada taraf tertentu,
karena kalau terlalu lama tidak ada rangsang tidak berkondisi, dalam hal ini
makanan, binatang percobaan itu tidak akan mendapatkan imbalan (reward)
atas refleks yang sudah dilakukannya dan karena itu pula refleks itu makin lama
akan makin menghilang dan terjadilah proses penghapusan refleks (extinction).
Mengacu
pada usaha Pavlov melalui eksperimennya tersebut diketahui bahwa tingkah laku
sebenarnya adalah rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang
terjadi setelah adanya conditioning process. Menurut Suryabrata (2004),
masalah yang ingin dipecahkan oleh Pavlov melalui eksperimennya itu sebenarnya adalah
menjawab pertanyaan, “bagaimana refleks bersyarat itu terbentuk?” Dalam
melakukan usahanya, anjing dibiarkan lapar kemudian diperdengarkan bunyi
mentronome selama 30 detik. Selanjutnya makanan disajikan dan terjadilah proses
salivasi. Percobaan itu dilakukan berulang-ulang dengan jarak waktu 15 menit.
Setelah diulang sebanyak 32 kali, ternyata mendengar bunyi mentronome saja (+
30 detik) anjing percobaan itu telah terjadi proses salivasi, dan bertambah
deras kalau makanan diberikan.
Demikianlah
ulasan singkat tentang Teori Classical
Conditioning, semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.