Posted by Laulaka on Jumat, 01 Juli 2016
Pada
awal-awal kemerdekaan Indonesia, aturan upacara tidak sedetil sekarang, dan
Bahasa Indonesia pun belum menjadi bahasa yang dituturkan sehari-hari seperti
sekarang ini. Orang Jawa misalnya, lebih familiar menggunakan Bahasa Jawa
daripada Bahasa Indonesia, justru dari sinilah cerita ini berawal.
Pada
upacara bendera kali ini, pembina atau disebut juga Inspektur Upacara adalah
Pak Yono, sedangkan pemimpin atau Komandan Upacara adalah Pak Tumiran.
Singkat
cerita… kini tiba saatnya Komandan Upacara (Pak Tumiran) memberi laporan kepada
Inspektur Upacara (Pak Yono) bahwa upacara siap dimulai..
Pak
Yono selaku Inspektur Upacara mengambil “Sikap Sempurna” dan setengah
berteriak, beliau mengatakan ”Laa..po..ran..“, (Maksudnya, supaya Komandan
Upacara, Pak Tumiran, memberikan penghormatan, dan kemudian laporan kepadanya).
Pak
Tumiran selaku Komandan Upacara juga sudah berdiri tegap, tetapi Pak Tumiran
tidak mengindahkan perintah Pak Yono.. Pak Tumiran tidak ada reaksi apa-apa..
Pak Tumiran diammm saja..
Sekali
lagi, Pak Yono teriak, “laaaa… po.. ran…. “
Lagi-lagi
Pak Tumiran selaku Komandan Upacara tidak ada reaksi apa-apa.. diamm saja..
Pak
Yono mulai kesal… wajahnya tampak memerah, ia merasa perintahnya tidak dihiraukan Pak Tumiran…
lalu Pak Yono teriak lagi… sekencang-kencangnya…. “La… po… ran..”
Tapi
anehnya, Pak Tumiran belum juga mengerti maksud Pak Yono, bahwa ia diminta
memberikan penghormatan. Seharusnya, Pak Tumiran memberi aba-aba… “Kepada Inspektur
Upacara, hormattttttt… grakkk..”, setelah itu melaporkan kesiapan upacara
kepada Pak Yono, dengan mengatakan, “lapor.. upacara siap dimulai”, begitu
seharusnya.
Pak
Yono teriak lagi.. dan kali ini tampak ia benar-benar geram… untuk kesekian kalinya
Pak Yono teriakkkk sekencang-kencangnya… “Laaaaaa…. pooooo…. raaannnn”.
Suasana
hening…. tegang… semua mata tertuju pada Pak Yono… apa yang terjadi… ???
Ternyata
Pak Tumiran juga tampak jengkel dan tidak kalah galaknya… Pak Tumiran balas
teriakkkk sekencang-kencangnya…. sambil berkata…. “Aku ora lapo-lapooo… lapo
awakmu bengak-bengok koyok ngunu” (artinya, “aku gak ngapa-ngapain, kenapa kamu
teriak-teriak kayak gitu).
----------------------------------------
Karena
terjadi perdebatan akibat salah persepsi, akhirnya upacara dibatalkan,
gara-gara kata “La.. po.. ran.. “ itu dimaknai Pak Tumiran dalam versi Jawa,
yang berarti “kamu ngapain aja.. Tumiran”, padahal maksud Pak Yono, Pak
Tumiran selaku Komandan Upacara supaya “laporan”, tidak ada maksud bertanya
“kamu ngapain aja Tumiran?”