Posted by Laulaka on Jumat, 17 Juni 2016
Dalam proposal-proposal penelitian mahasiswa, baik
mahasiswa S1, S2, bahkan S3, penulis seringkali melihat pernyataan Batasan
Masalah, yang ”mungkin” dianggap sama saja dengan menulis ulang judul
penelitian. Meskipun tidak sepenuhnya salah, tetapi perlu dipahami bahwa
Batasan Masalah adalah ”pembatasan ruang lingkup” penelitian yang diinginkan
oleh peneliti, sementara judul, meskipun ”memayungi” secara umum, tetapi
batas-batasnya diterangkan oleh Batasan Masalah. Lalu konkretnya, bagaimana
cara ”menyajikan” Batasan Masalah?
Cara menyajikan Batasan Masalah, umpamanya, salah satu
variabel penelitian yang Anda kaji adalah Self-Regulated
Learning (SRL). Jika Anda telusuri teori SRL, salah satu pakarnya
mengungkapkan bahwa SRL meliputi metacognitive
processes, motivational processes, dan behavioral processes. Lalu Anda sebagai peneliti, atas dasar pertimbangan tertentu tidak
meneliti keseluruhan konsep itu, tetapi hanya mengambil motivational processes misalnya. Dengan demikian Anda
sebagai peneliti sudah membatasi ruang lingkup SRL hanya pada motivational processes saja, yang meliputi
sub-sub berupa self-efficacy dan self-attribution. Tugas Anda sebagai peneliti dalam menyajikan Batasan Masalah adalah
menjelaskan alasan-alasan secara logis mengapa hanya bagian tertentu saja (motivational processes) yang Anda pilih,
sedangkan bagian lainnya (metacognitive processes dan behavioral processes) tidak. Selanjutnya,
apabila Batasan Masalah itu didasari oleh pertimbangan responden penelitian,
juga demikian. Maksudnya, Anda juga harus mengemukakan alasan-alasan mengapa
mengambil responden tertentu, sementara responden lainnya tidak?
Demikianlah uraian singkat tentang cara menyajikan
batasan masalah, semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.