Pada artikel terdahulu (Apa yang dimaksud dengan Learning Disability?) sudah disinggung bahwa learning
disabilities kemungkinan adalah karena adanya
disfungsi neurologis, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, dan hal itu akan
muncul dalam prestasi belajar siswa. Menurut
Abdurrahman (2003:13), prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Penyebab learning
disabilities adalah faktor internal, yaitu karena kemungkinan adanya disfungsi neurologis. Sementara itu, penyebab learning
problems adalah karena faktor eksternal, yaitu dapat berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar siswa, dan pemberian penguatan (reinforcement) yang tidak tepat.
Disfungsi neurologis sesungguhnya sering tidak hanya menyebabkan kesulitan belajar pada siswa, tetapi juga dapat menyebabkan tunagrahita dan gangguan emosional. Berbagai faktor dapat menyebabkan disfungsi neurologis, kondisi seperti ini
pada gilirannya dapat menyebabkan kesulitan belajar, antara lain:
a. Faktor genetik
b. Luka pada otak karena trauma fisik atau karena kekurangan oksigen.
c. Biokimia yang
hilang (misalnya biokimia yang diperlukan untuk memfungsikan saraf pusat).
d. Biokimia yang dapat merusak otak (misalnya zat pewarna pada makanan).
e. Pencemaran lingkungan (misalnya pencemaran timah hitam).
f. Gizi yang tidak memadai.
g. Pengaruh-pengaruh psikologis dan sosial yang merugikan perkembangan anak
(deprivasi lingkungan).
Menurut Abdurrahman, bahwa berbagai bentuk faktor
penyebab tersebut di atas dapat menimbulkan gangguan dari yang tarafnya ringan
hingga yang tarafnya berat.
Sementara pandangan yang sedikit berbeda tentang
“Faktor Penyebab Kesulitan Belajar” dikemukakan oleh Syah (2003). Menurut Syah,
fenomena
kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja
akademik atau prestasi belajarnya. Tidak hanya itu, kesulitan belajar juga dapat
dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) siswa seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam
kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk atau sering minggat dari
sekolah. Secara garis besar, menurut Syah, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan
belajar terdiri atas dua macam, yakni:
a. Faktor intern siswa, yakni
hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam siswa sendiri.
b. Faktor ektern siswa, yakni
hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa.
Kedua faktor tersebut di atas, menurut Syah, mencakup aneka ragam hal dan
keadaan, sebagaimana dijelaskan berikut ini.
a. Faktor intern siswa meliputi
gangguan atau ketidakmampuan psiko-fisik siswa, yakni:
1. Yang bersifat kognitif (ranah
cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa;
2. Yang bersifat afektif (ranah
rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;
3. Yang bersifat psikomotor (ranah
karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan
pendengar (mata dan telinga).
b. Faktor ektern siswa meliputi semua situasi dan kondisi
lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Ditinjau dari
lingkungannya dapat dibagi menjadi tiga macam:.
1. Lingkungan keluarga, contohnya:
ketidakharmonisan hubungan antara ayah dan ibu, dan rendahnya tingkat kehidupan
sosial ekonomi keluarga.
2. Lingkungan
perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
3. Lingkungan sekolah, contohnya:
kondisi dan letak gedung yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta
alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Demikianlah ulasan tentang “Apa Faktor-Faktor yang
Menyebabkan Learning Disabilities?” semoga
bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.
Sumber:
Abdurrahman, M.
(2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan
Belajar. Jakarta: Kerjasama Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan dengan PT Rineka Cipta.
Syah, M. (2003). Psikologi Belajar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.