Barangkali
semua mahasiswa sepakat bahwa tugas "terakhir dan terberat" dalam
menempuh pendidikan di jenjang Pendidikan Tinggi adalah membuat karya tulis
ilmiah yang disebut skripsi (S1), tesis (S2), atau disertasi (S3). Tingkat
kesulitan dalam menyusun karya ilmiah itu pun bervariasi bagi setiap mahasiswa.
Namun, secara khusus, bagi kebanyakan mahasiswa ilmu-ilmu sosial, kesulitan
awal yang lazim dikeluhkan adalah melakukan identifikasi masalah, dalam hal ini
masalah-masalah yang layak dikategorikan sebagai masalah penelitian. Tak
jarang, kesulitan tersebut menjadi batu sandungan yang turut memanjangkan
rentang waktu studi mahasiswa, sehingga gelar "mahasiswa abadi"
menjadi lebih duluan disandang ketimbang gelar akademik yang sesungguhnya.
Dua Jenis Masalah
Secara
umum, masalah dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu masalah-masalah yang
dapat dipecahkan (solvable problems) dan masalah-masalah yang tidak
dapat dipecahkan (unsolvable problems). Masalah-masalah yang dapat
dipecahkan (solvable problems) adalah masalah-masalah yang dapat dijawab
dengan kemampuan bernalar, yang relatif kurang mengundang perdebatan. Kalaupun
perdebatan seputar itu terjadi, maka perdebatan itu akan berhenti ketika
ditemukan pembuktian. Misalnya, apakah benar seekor merpati memiliki daya ingat
yang kuat, kemampuan navigasi, sehingga dapat mengantarkan surat atau pesan
dari suatu tempat ke tempat lain dengan jarak ratusan bahkan ribuan kilometer?
Apakah benar bekatul dapat menurunkan kadar cholesterol dalam darah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat dijawab, baik mengacu pada pengalaman,
atau mungkin membutuhkan bukti penelitian.
Lain
hal dengan masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan (unsolvable
problems). Masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan (unsolvable
problems), adalah masalah-masalah yang mengetengahkan pertanyaan-pertanyaan
yang tidak dapat dijawab, sebab tidak ada celah untuk melakukan pembuktian.
Biasanya menyangkut fenomena supranatural, atau terkait dengan iman kepercayaan
seseorang. Misalnya, apakah benar kematian merupakan pintu masuk bagi kehidupan
yang baru? Apakah benar ketika mau menjemput, malaikat bertanya tentang dosa?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak dapat dijawab, bukan hanya karena
ketiadaan orang yang dapat ditanya dan dipercaya pernah mengalami hal itu,
tetapi karena memang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
Hal-hal yang dapat menjadi Sumber Masalah Penelitian
Masalah
penelitian dapat muncul dari adanya kesenjangan (gap) antara das
sollen dan das sein, antara apa yang seharusnya dan apa yang senyatanya,
antara apa yang diperlukan dan apa yang tersedia, antara harapan dan kenyataan,
antara target dan realisasi, antara teori dan fakta, dan seterusnya. Menurut
McGuigan (1978) masalah dapat mewujud dalam tiga bentuk, yakni:
a. Ada kesenjangan dalam
pengetahuan kita. Dalam arti, muncul kesadaran dalam diri kita bahwa ada
sesuatu hal yang tidak kita ketahui, atau ada informasi yang tidak kita miliki.
Lalu, didorong oleh rasa penasaran atau ingin tahu, kita mencari jawaban
tentang hal tersebut lebih jauh;
b. Ada sejumlah informasi
tentang sesuatu hal yang saling berkontradiksi. Dalam ilmu-ilmu sosial, temuan
saling bertentangan suatu hasil penelitian seringkali diawali dari banyak
membaca jurnal-jurnal penelitian terkait. Hal ini karena tidak ada penelitian
yang tuntas, selalu ada kemungkinan temuan penelitian "digugurkan"
oleh temuan penelitian yang lain. Misalnya, semula self-efficacy
diyakini dipengaruhi oleh dukungan sosial (social support), tetapi
beberapa penelitian lainnya justru menyatakan hubungan kedua variabel tersebut
tidaklah signifikan. Penelitian lainnya, misalnya, ada yang menyatakan bahwa
kehadiran orang lain memacu kinerja seseorang, tetapi penelitian lainnya
menyatakan kehadiran orang lain justru menghambat kinerja seseorang.
c. Ada sesuatu fakta yang perlu
dijelaskan. Misalnya, adalah fakta bahwa ada siswa yang cerdas, tetapi mengapa
memiliki prestasi belajar yang rendah (underachievement).
Walaupun
masalah penelitian demikian banyak, namun membutuhkan kejelian
"calon" peneliti untuk menemukannya. Hal-hal yang dapat menjadi
sumber masalah penelitian, antara lain:
a. Bacaan, terutama
bacaan-bacaan yang berisi laporan hasil penelitian. Hal ini dianjurkan, sebab
laporan hasil penelitian yang baik, tentu memuat rekomendasi untuk penelitian
selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada penelitian yang dapat menjawab
tuntas semua masalah yang muncul. Justru karena itulah maka ilmu pengetahuan
terus berkembang.
b. Diskusi, seminar, atau
pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya, juga dapat menjadi sumber bagi
"calon" peneliti untuk menemukan masalah peneitian. Hal ini karena
pada pertemuan seperti itu masalah-masalah penelitian dipersoalkan secara
profesional.
c. Pernyataan pemegang otoritas,
baik di dalam pemerintahan maupun di bidang ilmu tertentu juga dapat menjadi
masalah penelitian. Misalnya pernyataan Mendikbud tentang rendahnya daya serap
murid-murid SMK, tingkat pengangguran intelektual, dan sebagainya.
d. Pengamatan sepintas, juga
seringkali terjadi ketika seseorang menemukan masalah penelitiannya dalam suatu
perjalanan atau peninjauan, yang sebelumnya tidak diduga.
e. Pengalaman pribadi dan
perasaan intuitif juga dapat dkembangkan menjadi sumber ditemukannya masalah
penelitian.
Apapun
sumbernya, masalah penelitian itu hanya akan muncul atau dapat
diidentifikasi apabila calon peneliti mempunyai banyak pengalaman atau
pengetahuan mengenai suatu cabang ilmu.
Demikianlah panduan
praktis bagi Anda untuk mengidentifikasi Masalah Penelitian. Semoga uraian
singkat ini bermanfaat bagi Anda yang membutuhkannya.